Hasil kerajinan FKWW kini sudah dipasarkan hingga ke luar daerah, termasuk ke Samarinda dan Jakarta.
Meski demikian, para perajin mengakui bahwa penghargaan masyarakat terhadap kerajinan eceng gondok belum sebanding dengan usaha yang dilakukan.
“Banyak orang hanya melihat produk akhirnya tanpa memahami betapa panjang proses pembuatannya. Padahal kalau dinilai dari sisi seni, hasilnya sangat indah untuk menjadi hiasan rumah,”tuturnya.
FKWW saat ini memiliki 19 anggota, namun yang rutin berproduksi hanya sekitar tujuh hingga delapan orang.
Mereka berbagi tugas mulai dari memanen, menjemur, hingga menganyam.
Kendala lain adalah ketersediaan bahan baku yang tidak selalu mencukupi. Untuk itu, sebagian bahan harus dibeli dari warga sekitar.
“Harga eceng gondok basah sekitar Rp70.000 per gulung. Sementara yang sudah kering, setengah gulung berisi 50 batang dijual Rp10.000,”jelas Eny.
Dengan keterbatasan jumlah anggota dan pasokan bahan baku, komunitas ini tetap berkomitmen mengembangkan kerajinan eceng gondok agar lebih dikenal masyarakat luas. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar