Berita Kota Samarinda

Dari Gulma Jadi Karya: Eceng Gondok Waduk Benanga Bernilai Ekonomi

lihat foto
Forum Komunitas Wanita Waduk (FKWW) Sulap Gulma Eceng Gondok Waduk Benanga menjadi aneka kerajinan tangan dengan nilai seni sekaligus nilai jual. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa
Forum Komunitas Wanita Waduk (FKWW) Sulap Gulma Eceng Gondok Waduk Benanga menjadi aneka kerajinan tangan dengan nilai seni sekaligus nilai jual. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa
“Rutinitasnya harus disiplin. Siang dijemur, malam dimasukkan ke rumah. Proses itulah yang paling menentukan kualitas anyaman,”jelas Eny.

Hasil kerajinan FKWW kini sudah dipasarkan hingga ke luar daerah, termasuk ke Samarinda dan Jakarta.

Meski demikian, para perajin mengakui bahwa penghargaan masyarakat terhadap kerajinan eceng gondok belum sebanding dengan usaha yang dilakukan.

“Banyak orang hanya melihat produk akhirnya tanpa memahami betapa panjang proses pembuatannya. Padahal kalau dinilai dari sisi seni, hasilnya sangat indah untuk menjadi hiasan rumah,”tuturnya.

FKWW saat ini memiliki 19 anggota, namun yang rutin berproduksi hanya sekitar tujuh hingga delapan orang.

Mereka berbagi tugas mulai dari memanen, menjemur, hingga menganyam.

Eceng Gondok yang diubah menjadi kerajinan tangan. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa
Eceng Gondok yang diubah menjadi kerajinan tangan. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa

Kendala lain adalah ketersediaan bahan baku yang tidak selalu mencukupi. Untuk itu, sebagian bahan harus dibeli dari warga sekitar.

“Harga eceng gondok basah sekitar Rp70.000 per gulung. Sementara yang sudah kering, setengah gulung berisi 50 batang dijual Rp10.000,”jelas Eny.

Dengan keterbatasan jumlah anggota dan pasokan bahan baku, komunitas ini tetap berkomitmen mengembangkan kerajinan eceng gondok agar lebih dikenal masyarakat luas. (*)

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar