Dari total 38.000 penyuluh yang ada, pemerintah telah menyaring 34.000 penyuluh untuk ditarik ke pusat secara mandatori. Meski status berubah, mereka tetap bertugas di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di daerah masing-masing.
Idha menegaskan bahwa percepatan swasembada pangan harus berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas petani. Penyuluh berperan penting dalam mendampingi petani untuk meningkatkan indeks pertanaman, memakai varietas unggul, dan menerapkan teknologi pertanian modern.
Ia juga menjelaskan bahwa sejak awal 2025, Brigade Pangan telah menjadi motor utama transformasi pertanian di berbagai daerah. Pemerintah telah menyalurkan bantuan alsintan dan pelatihan intensif. Kini, banyak anggota brigade mampu mengelola lahan dan mengoperasikan alat pertanian secara mandiri.
“Brigade Pangan menjadi titik balik menuju pertanian modern. Kami membekali mereka dengan teknologi, benih unggul, dan pelatihan usaha tani. Tapi bantuan hanya diberikan sekali. Selanjutnya, mereka harus mandiri dan menyusun rencana usaha sendiri,” jelasnya.
Sebagai bentuk apresiasi, Mentan Amran secara simbolis menyerahkan 10 unit sepeda motor kepada penyuluh berprestasi. Penilaian berdasarkan indikator seperti pendampingan Luas Tambah Tanam (LTT), pengawasan harga gabah dan jagung, serta peran dalam program Brigade Pangan.
Kementan juga meluncurkan dua program strategis yang melibatkan langsung para penyuluh, yakni penetapan 1.000 gapoktan sebagai titik serah pupuk bersubsidi dan penguatan Brigade Pangan serta Koperasi Pertanian Modern sebagai penyalur BBM untuk alsintan.
Dengan mengusung tema “Transformasi Penyuluhan Pertanian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Mendukung Swasembada Pangan Nasional”, peringatan HKP ke-53 ini berhasil menarik lebih dari 3.000 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pejabat, penyuluh, gapoktan, Brigade Pangan, TNI/Polri, akademisi, hingga pelaku usaha pertanian dari seluruh Indonesia. (*/pertanian.go.id)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar