BorneoFlash.com, BALIKPAPAN - Ketersediaan stok beras dinyatakan aman hingga akhir lebaran Idul Fitri 1445 Hijriah. Kepastian stok aman tersebut, disampaikan Penjabat (Pj) Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Akmal Malik saat melakukan kunjungan ke Gudang Bulog di Balikpapan, pada hari Senin (26/2/2024).
Kunjungan ini untuk memastikan ketersediaan stok beras di Bulog bagi warga Kaltim khususnya Kota Balikpapan.
"Stok beras terpenuhi. Ada stok beras 20 ribu lebih untuk se Kaltim, artinya bisa memenuhi masyarakat sampai selesai lebaran nanti," terangnya.
Pj Gubernur Kaltim berharap masyarakat Kaltim, khususnya Balikpapan dan Samarinda tidak perlu panik, karena stok beras masih tersedia dengan baik.
Kebutuhan beras di Kaltim selama satu tahun kurang lebih sekitar 350 ribu ton. Namun, baru bisa terpenuhi sebanyak 140 ribu ton atau 30 sampai 45 persen saja.
Harga Eceran Tinggi (HET) beras Bulog yang dijual kepada pedagang senilai Rp10.500,- tetapi pedagang menjual dengan harga Rp11.500,-.
"Saya pikir pedagang jangan terlalu banyak menguntung, sehingga tidak terjadi kepanikan di kalangan masyarakat," jelasnya.
Akmal mengatakan posisi Bulog untuk menjaga stabilisasi harga, akan tetapi penyediaan tetap ada dari masyarakat. "Tidak ada pilihan bagi kita untuk menggenjot produksi padi. Sistem pertanian kita sangat tergantung sekali sama alam, cuaca dan air. Inilah yang menjadi atensi dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim," terangnya.
Disamping itu, pihaknya akan mendorong diversifikasi pangan, tidak hanya tergantung pada beras saja. "Saya berterima kasih sama Bulog karena sudah melaksanakan fungsi stabilisasi harga dengan baik," ujarnya.
Akmal tidak hanya memastikan stok beras di gudang Bulog, tetapi juga akan meninjau pasar untuk mengetahui harga jual beras. "Saya mau cek ke lapangan, benar nggak harganya segitu," ungkapnya.
Pemerintah bersama Bulog akan mencoba mencari solusi agar tidak terlalu tinggi disparitas harga di pasar. "Kita cek ke lapangan," ungkapnya.
Apabila itu terjadi, maka Bulog akan siap mengintervensi ketika disparitasnya terlalu tinggi. Pemerintah daerah pun akan melakukan langkah-langkah peningkatan produksi dan mendorong diversifikasi pangan. "Itu solusinya, kalau semua tergantung beras kan pasti akan naik permintaan beras," sebutnya.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar