Dengan adanya habitat dan ekosistem baru ini yang dihasilkan dari proyek rig to reef ini, diharapkan akan meningkatkan populasi ikan sehingga akan menciptakan multiplier effect pertumbuhan ekonomi yaitu peningkatan tangkapan nelayan dan ekonomi wisata penyelaman (recreation diving).
Seperti yang telah diterapkan di negara-negara lain seperti di Teluk Meksiko Amerika Serikat, Brunei, maupun Malaysia, terumbu karang buatan ini akan menciptakan habitat dan ekosistem baru hingga meningkatkan keanekaragaman hayati di perairan tersebut, yang sangat baik bagi lingkungan dan sustainability.
Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamina Hulu Indonesia yang merupakan induk usaha PHKT, Chalid Said Salim menyampaikan bahwa konsep rig to reef ini juga dapat mengurangi biaya decommissioning hingga 10%-20% karena mengurangi biaya penanganan di darat.
“Pilot project ini merupakan suatu terobosan dalam industri hulu migas Indonesia yang nantinya dapat menjadi acuan bagi proyek-proyek decommissioning di masa yang akan datang, baik dari aspek perencanaan, perizinan, engineering, hingga pelaksanaan”, ujar Chalid.
Chalid menyampaikan terima kasih kepada seluruh instansi Kementerian dan Lembaga di Indonesia dan kepada Pemerintah Korea Selatan dan konsorsium kontraktor-kontraktor Korea, yang telah memberikan dana hibah dalam bentuk jasa ini kepada Pemerintah Indonesia di proyek ini.
Apresiasi disampaikan juga oleh Chalid kepada Management KHAN yang menjadi pihak pelaksana utama pilot project ini dan berharap bahwa pengalaman di pilot project ini akan menambah nilai, kapasitas, dan kemampuan KHAN dalam usaha konstruksi, khususnya offshore decommissioning.
“Saya mengajak semua pihak untuk terus berkolaborasi, bekerja sama dan berkomunikasi dengan sebaik-baiknya, agar pilot project ini dapat kita kawal hingga tuntas dengan selamat dan merealisasikan manfaat-manfaat bagi semua pihak”, pungkas Chalid.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar