Hasilnya mulai terlihat pada 2025 ketika Kampung Bungas untuk pertama kalinya mengikuti lomba lingkungan dan langsung meraih juara.
Meski demikian, Suwanto mengakui membangun kesadaran masyarakat bukan perkara mudah. Tantangan terbesar justru datang dari menjaga semangat warga agar tetap konsisten.
"Ada saatnya masyarakat semangat, ada saatnya jenuh. Kadang ada yang bilang capek. Tapi kami terus mendekati mereka, mengajak kembali, dan menjaga semangat bersama. Membangun kampung memang proses panjang yang naik turun," ujarnya.
Kini Kampung Bungas telah memiliki visi yang lebih besar. Setelah sukses mengembangkan kawasan berbasis lingkungan dan ketahanan pangan, warga menargetkan kampung tersebut menjadi destinasi wisata lingkungan di Kota Balikpapan.
Melalui konsep wisata berbasis masyarakat, warga bercita-cita menghadirkan kawasan edukasi lingkungan, pertanian perkotaan, hingga usaha ekonomi kreatif yang tumbuh dari rumah-rumah warga.
Target tersebut ditetapkan secara bertahap. Tahun 2027 Kampung Bungas direncanakan masuk dalam pengembangan kelompok sadar wisata (Pokdarwis), sedangkan pada 2028 diharapkan dapat diresmikan sebagai kawasan wisata lingkungan Kota Balikpapan.
"Kami ingin seperti kampung-kampung wisata yang berhasil di kota lain. Ada kafe di teras rumah, ada edukasi lingkungan, ada produk warga yang bisa dinikmati pengunjung. Itu mimpi besar kami," kata Suwanto.
Baginya, perubahan besar tidak selalu lahir dari program yang megah atau anggaran yang besar. Terkadang, perubahan dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
"Merawat pertiwi tidak harus dengan hal besar. Menanam dari halaman rumah sendiri, menjaga lingkungan sendiri, itu juga bentuk cinta kepada Indonesia," tuturnya.
Dari iuran Rp2.000, dua butir telur, dan segenggam beras, Kampung Bungas kini menjelma menjadi simbol bahwa gotong royong masih menjadi kekuatan utama dalam membangun masa depan sebuah kampung. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar