Berita Balikpapan Terkini

Kampung Bungas Buktikan Kekuatan Gotong Royong Warga

lihat foto
Camat Balikpapan Tengah, Ariefdah Aida Kuntjoro. Foto: BorneoFlash/Niken Sulastri
Camat Balikpapan Tengah, Ariefdah Aida Kuntjoro. Foto: BorneoFlash/Niken Sulastri

BorneoFlash.com, BALIKPAPAN - Di balik deretan tanaman hijau, kebun hidroponik, dan lingkungan yang tertata rapi di Kampung Bungas, Kelurahan Gunung Sari Ilir, Kecamatan Balikpapan Tengah, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan warga membangun kampung mereka dari nol.

Tak ada modal besar, apalagi  lampu Aladin yang bisa mengubah keadaan dalam sekejap. Semua berawal dari kesadaran masyarakat yang ingin menciptakan lingkungan lebih baik bagi generasi mendatang.

Kisah itulah yang menjadi perhatian Tim Verifikasi Lapangan Lomba Aku Hatinya PKK Tingkat Provinsi Kalimantan Timur saat berkunjung ke Kampung Bungas, pada Sabtu (13/6/2026).

Camat Balikpapan Tengah, Ariefdah Aida Kuntjoro, mengatakan keberhasilan Kampung Bungas menjadi bukti bahwa program Aku Hatinya PKK mampu mendorong masyarakat untuk mengelola lingkungan secara mandiri dan berkelanjutan.

"Program ini mengajarkan masyarakat agar secara sadar mengelola lingkungannya menjadi asri, indah, nyaman, sekaligus mampu mendukung pemenuhan gizi dan ekonomi keluarga," ujarnya.

Menurut Ariefdah, keberadaan Kampung Bungas memiliki keunikan tersendiri karena berada di kawasan padat penduduk di tengah Kota Balikpapan. Berbeda dengan kawasan perumahan modern, wilayah tersebut merupakan kampung murni warga dengan kondisi geografis berbukit yang memiliki keterbatasan lahan.

Namun keterbatasan itu justru menjadi kekuatan bagi masyarakat untuk berinovasi.

"Kampung Bungas bukan kawasan perumahan. Ini kampung warga yang berada di tengah kota dengan kondisi wilayah yang menantang. Tetapi melalui komitmen bersama, dukungan PKK, pemerintah, dan seluruh stakeholder, kawasan ini berhasil berkembang menjadi lingkungan yang produktif," katanya.

Sementara itu, Pelopor Kampung Bungas, Suwanto, mengenang bagaimana seluruh warga saat itu hanya membawa iuran Rp2.000, dua butir telur, dan satu mug beras sebagai konsumsi rapat.

Dari pertemuan sederhana tersebut lahirlah gagasan untuk membangun kampung hijau berbasis partisipasi masyarakat.

"Awalnya bukan Kampung Bungas. Kami hanya punya cita-cita membuat kampung yang hijau dan nyaman. Uang Rp2.000, dua telur, dan beras itu kami kumpulkan untuk makan bersama sambil membahas bagaimana kampung ini bisa berubah," kenangnya.

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar