Ia menuturkan, kemampuan wilayah penyangga IKN dalam memenuhi kebutuhan pangan masih relatif rendah. Produksi lokal baru mampu menyuplai sekitar 35 persen kebutuhan masyarakat, sementara sisanya masih bergantung pada pasokan dari berbagai daerah lain, terutama Jawa dan Sulawesi.
Padahal, jumlah penduduk di kawasan yang selama ini dikenal sebagai Tri City diperkirakan terus meningkat. Dari sekitar 2,6 juta jiwa saat ini, jumlah tersebut diproyeksikan mencapai 3,5 juta jiwa pada 2030 seiring perkembangan IKN.
Peningkatan populasi tersebut diyakini akan berdampak langsung terhadap kebutuhan bahan pangan dan komoditas pokok lainnya.
“Pada saat ini kemampuan pemenuhan kebutuhan pangan di kawasan tersebut baru berada pada kisaran 35 persen. Selebihnya, sekitar 65 persen masih bergantung pada pasokan dari luar daerah,” ujarnya.
Marnabas mengingatkan bahwa ketergantungan yang terlalu besar terhadap pasokan eksternal dapat memunculkan persoalan baru apabila tidak diantisipasi sejak sekarang. Selain berpotensi mengganggu stabilitas pasokan, kondisi itu juga dapat meningkatkan tekanan inflasi ketika jumlah penduduk terus bertambah.
Sebagai langkah jangka panjang, ia mengusulkan program pembukaan lahan sawah baru di Kalimantan, terutama di wilayah Kukar dan PPU yang dinilai memiliki potensi pengembangan paling besar.
Total kebutuhan lahan yang diusulkan mencapai sekitar 100.000 hektare. Kawasan tersebut nantinya tidak hanya diperuntukkan bagi produksi beras, tetapi juga pengembangan komoditas hortikultura dan sektor peternakan guna memperkuat ketahanan pangan kawasan penyangga IKN.
Menurut perhitungannya, luas lahan tersebut masih sangat kecil dibandingkan keseluruhan wilayah Kalimantan yang tersedia untuk pengembangan sektor pertanian.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar