“Dari seribu lembar popok yang terkumpul hari ini, nantinya akan kami olah menjadi sekitar satu ton pupuk padat yang akan dimanfaatkan untuk mendukung program ketahanan pangan,” jelasnya.
Pupuk hasil pengolahan limbah popok tersebut rencananya akan dihibahkan ke sejumlah lokasi, di antaranya Pesantren Al Banjari Kilometer 20 untuk mendukung kemandirian pertanian, kawasan pertanian bawang tiwai di Graha Indah, taman-taman di lingkungan Masjid Islamic Center, serta Kampung Program Iklim (Proklim) di Muara Rapak.
Lebih jauh, Rohman menjelaskan bahwa limbah popok memiliki potensi ekonomi yang cukup besar apabila dikelola dengan baik. Salah satu komponen utama yang dihasilkan adalah hidrogel yang berasal dari bagian penyerap cairan pada popok.
“Hidrogel yang sudah melalui proses fermentasi memiliki nilai ekonomi sekitar Rp10 ribu per kilogram dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Ini menunjukkan bahwa limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai ternyata bisa menjadi sumber manfaat ekonomi,” ujarnya.
Dalam proses pengolahan, limbah popok dipilah menjadi tiga komponen utama, yakni plastik, serat (fiber), dan hidrogel. Masing-masing komponen kemudian dimanfaatkan kembali menjadi produk yang berbeda.

Bagian plastik diolah menjadi bahan bakar padat dan bahan bakar cair, serat dimanfaatkan sebagai bahan perekat untuk produk GRC (Glassfiber Reinforced Cement), sedangkan hidrogel digunakan sebagai bahan baku pupuk.
“Tidak menutup kemungkinan ke depan akan lahir produk-produk turunan lainnya dari limbah popok. Prinsipnya, kami ingin memastikan tidak ada bagian yang terbuang dan semuanya memiliki nilai manfaat,” tegas Rohman.
Melalui gerakan ini, pengelolaan limbah popok tidak hanya menjadi solusi pengurangan sampah di TPA, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru sekaligus mendukung program ketahanan pangan berbasis ekonomi sirkular di Kota Balikpapan. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar