Selain itu, mampu menyelamatkan kehidupan pers yang berarti ikut menyelamatkan kehidupan demokrasi di Indonesia.
Ditengah gempuran media sosial saat ini, pers terlihat kehilangan kemampuan untuk mengontrol kuasa dan menginformasikan hal benar kepada publik. Itu juga berkaitan dengan kepercayaan publik terhadap informasi yang disuguhkan.
Harapan ini bukan tanpa alasan, mengingat hal ini berkaitan dengan kepemimpinan saat ini yang perlu dikoreksi penuh. Bagi saya, ketidakmampuan memimpin organisasi sama dengan ketidakmampuan mengolah buah pemikiran. Dan itu, terjadi pada kondisi PWI Paser saat ini.
Meski baru bergelut delapan tahun pada dunia jurnalistik, namun menuju tujuh tahun bertugas di Bumi Daya Taka, saya turut mengikuti bahkan terlibat dalam perkembangan kerja pers disini. Tentu bukan yang terbilang lama, namun rutinitas membawa saya cepat memahami situasi.
Jauh di lubuk hati, saya hanya ingin mengingatkan teman-teman, khususnya yang baru kenal profesi ‘ratu dunia’ ini, agar jangan berhenti menambah wawasan dan rasa ingin tahu. Selain itu, jangan kalah wawasan. Agar kita tidak dicap sebagai corong informasi.
Termasuk dalam memimpin organisasi profesi wartawan tertua ini. Saya menginginkan bahwa yang terpilih bukan karena ambisi melainkan demi pelayanan membawa profesi ini lebih dipandang dan punya kedudukan yang setara antar kalangan.
Terakhir, jangan jadikan panggung PWI sebagai tempat untuk memperkaya diri atau melenggang menuju bagian dari oligarki. Dan tanggungjawab mengedukasi publik harus yang utama, selain menganggap bahwa wartawan hanya sekadar pekerjaan. (*)
*Penulis: Wartawan Media Kaltim, TB Sihombing
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar