“Jadi, kita tidak berhenti pada pembangunan fisik, pembangunan manusianya juga kita lakukan,” kata Troy.
Dalam forum tersebut, praktisi dan pemerhati kecerdasan artifisial, Romeo Matthew, turut mengingatkan pentingnya berpikir kritis dalam penggunaan AI dengan tetap mengedepankan etika, transparansi, dan tanggung jawab.
Otorita IKN juga telah menyusun peta jalan pendidikan secara komprehensif, termasuk penerapan wajib belajar 13 tahun di kawasan IKN yang mencakup satu tahun pendidikan pra-sekolah sebelum jenjang sekolah dasar.
Dalam sesi diskusi, peserta aktif menyampaikan berbagai pertanyaan kritis, termasuk terkait perlindungan keanekaragaman hayati dan satwa endemik seperti orangutan.
Menanggapi hal itu, Troy menegaskan komitmen Otorita IKN dalam menjaga kelestarian lingkungan dan habitat satwa.
“Kami sangat melindungi lingkungan hidup, termasuk soal satwa. Jadi tidak usah khawatir, komitmen kami sangat tinggi untuk satwa-satwa,” tegasnya.
Otorita IKN diketahui bekerja sama dengan berbagai lembaga konservasi, di antaranya Borneo Orangutan Survival Foundation dan Yayasan Arsari. Upaya yang dilakukan meliputi reforestasi, rewilding, perlindungan habitat, pelarangan perburuan, hingga pembangunan jembatan satwa untuk menjaga konektivitas ekosistem.
Melalui forum ini, Otorita IKN berharap generasi muda dapat menjadi mitra strategis dalam menyampaikan informasi yang benar sekaligus aktif mengawal pembangunan IKN menuju Indonesia Emas 2045. (*/Humas Otorita IKN)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar