Kawasan ini dinilai strategis karena didukung akses logistik yang efisien, termasuk berada di jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang menjadi lintasan perdagangan internasional.
Bupati pun mendorong adanya langkah konkret dari para pemangku kepentingan, termasuk legislatif, untuk mempercepat realisasi investasi di sektor ini. Ia berharap perusahaan-perusahaan perkebunan dapat segera membangun fasilitas pengolahan seperti kilang minyak (refinery) hingga pabrik biodiesel di KEK Maloy.
“Ini bukan hanya peluang bisnis, tetapi juga bagian dari kontribusi nyata dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Kami membuka ruang seluas-luasnya bagi investor yang ingin tumbuh bersama Kutai Timur,” tegasnya.
Ia juga mengajak para investor, baik dalam maupun luar negeri, untuk melihat Kutai Timur sebagai kawasan potensial dengan sumber daya melimpah, dukungan kebijakan pemerintah, serta infrastruktur yang terus berkembang.
Investasi di sektor hilirisasi sawit dinilai mampu memberikan keuntungan jangka panjang sekaligus dampak sosial yang besar.
“Dengan hadirnya industri pengolahan di daerah, kita bisa menekan biaya logistik, meningkatkan daya saing produk, dan yang terpenting menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat lokal. Ini adalah masa depan Kutai Timur yang kita bangun bersama,” pungkasnya. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar