Dalam mendorong investasi, Balikpapan telah memiliki Mall Pelayanan Publik dengan lebih dari 100 layanan perizinan dalam satu gedung.
Pemerintah juga tengah menyiapkan optimalisasi aset daerah melalui kerja sama dengan pihak swasta, termasuk skema KPBU dan P3, guna mempercepat pembangunan.
Dari sisi fasilitas, Balikpapan dinilai telah siap sebagai kota MICE dengan dukungan bandara, pelabuhan, akses tol, hotel representatif, hingga kapasitas event nasional skala seribu peserta.
Namun demikian, ekonomi biru masih belum tergarap maksimal. Potensi budidaya laut seperti rumput laut dan perikanan tangkap dinilai memiliki peluang ekspor yang besar.
Pemerintah membuka peluang kajian dan survei untuk pengembangan sektor ini serta pemberdayaan nelayan.
Bagus juga menegaskan bahwa proses pembangunan membutuhkan tahapan panjang, mulai dari penetapan lokasi, pemeriksaan lahan, penyusunan DED, hingga eksekusi yang bisa memakan waktu tiga tahun.
Penanganan banjir dan pelayanan air bersih menjadi kebutuhan dasar yang terus diprioritaskan. Salah satu proyek besar yang tengah dikaji adalah sistem penyambungan Sungai Mahakam–Sepaku–Balikpapan yang membutuhkan anggaran besar dan kolaborasi lintas pemerintah.
“Keterbatasan fiskal membuat kita harus melibatkan partisipasi swasta. Kita dorong pengusaha nasional untuk ikut berkontribusi membangun Balikpapan,” tegasnya.
Melalui strategi diversifikasi ekonomi, penguatan infrastruktur, dan kolaborasi multipihak, Pemerintah Kota Balikpapan optimistis mampu mendorong pertumbuhan yang inklusif sekaligus mewujudkan kota global yang nyaman dihuni dan berdaya saing tinggi. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar