BorneoFlash.com, BALIKPAPAN - Wakil Wali (Wawali) Kota Balikpapan, H. Bagus Susetyo, menegaskan arah pembangunan kota ke depan akan difokuskan pada diversifikasi ekonomi dan penguatan sektor nonmigas, sebagai strategi menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Balikpapan saat ini masih berada di atas rata-rata nasional. Namun, struktur ekonomi yang sekitar 46 persen ditopang industri pengolahan migas harus mulai diseimbangkan dengan sumber pertumbuhan baru.
“Kita bersyukur pertumbuhan ekonomi masih tinggi. Tapi ini harus menjadi trigger bagi kita semua untuk mencari peluang baru. Tidak hanya pemerintah, tetapi juga seluruh stakeholder termasuk swasta,” ujarnya, dalam Forum Konsultasi Publik Penyusunan Rancangan Awal Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2027 yang digelar di Aula Balai Kota, pada Kamis (19/2/2026).
Bagus menilai sektor pariwisata dan ekonomi kreatif masih menyimpan potensi besar. Dengan garis pantai yang panjang dan potensi wisata bahari yang belum tergarap maksimal, Balikpapan dinilai memiliki peluang menjadi destinasi unggulan.
“Kita punya pantai dan laut yang luar biasa, tapi sentuhan pengembangannya masih perlu ditingkatkan,” katanya.
Selain itu, pengembangan industri hilirisasi juga menjadi fokus. Pemerintah kota telah menyelesaikan detail tata ruang sebagai landasan kepastian investasi, khususnya untuk kawasan industri dan hilirisasi.
Ia juga menyebut peluang proyek strategis nasional terbuka lebar meski terjadi pengurangan transfer ke daerah (TKD), karena beberapa program dapat langsung didukung kementerian.
Tak hanya industri dan pariwisata, Balikpapan juga masih memiliki potensi pertanian di wilayah timur dan utara. Sekitar 80 hektare lahan dinilai bisa dikembangkan menjadi sawah atau sistem rantai pasok pangan lokal.
Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah seperti Sulawesi dan Jawa, sekaligus mendukung program makanan bergizi gratis yang saat ini telah berjalan di 21 titik dan berpotensi bertambah.
Pemerintah berharap dukungan perencanaan dan infrastruktur seperti jalan usaha tani serta irigasi dapat direalisasikan untuk memperkuat ketahanan pangan lokal.
Dalam mendorong investasi, Balikpapan telah memiliki Mall Pelayanan Publik dengan lebih dari 100 layanan perizinan dalam satu gedung.
Pemerintah juga tengah menyiapkan optimalisasi aset daerah melalui kerja sama dengan pihak swasta, termasuk skema KPBU dan P3, guna mempercepat pembangunan.
Dari sisi fasilitas, Balikpapan dinilai telah siap sebagai kota MICE dengan dukungan bandara, pelabuhan, akses tol, hotel representatif, hingga kapasitas event nasional skala seribu peserta.
Namun demikian, ekonomi biru masih belum tergarap maksimal. Potensi budidaya laut seperti rumput laut dan perikanan tangkap dinilai memiliki peluang ekspor yang besar.
Pemerintah membuka peluang kajian dan survei untuk pengembangan sektor ini serta pemberdayaan nelayan.
Bagus juga menegaskan bahwa proses pembangunan membutuhkan tahapan panjang, mulai dari penetapan lokasi, pemeriksaan lahan, penyusunan DED, hingga eksekusi yang bisa memakan waktu tiga tahun.
Penanganan banjir dan pelayanan air bersih menjadi kebutuhan dasar yang terus diprioritaskan. Salah satu proyek besar yang tengah dikaji adalah sistem penyambungan Sungai Mahakam–Sepaku–Balikpapan yang membutuhkan anggaran besar dan kolaborasi lintas pemerintah.
“Keterbatasan fiskal membuat kita harus melibatkan partisipasi swasta. Kita dorong pengusaha nasional untuk ikut berkontribusi membangun Balikpapan,” tegasnya.
Melalui strategi diversifikasi ekonomi, penguatan infrastruktur, dan kolaborasi multipihak, Pemerintah Kota Balikpapan optimistis mampu mendorong pertumbuhan yang inklusif sekaligus mewujudkan kota global yang nyaman dihuni dan berdaya saing tinggi. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar