Dalam konteks nasional, penggunaan pellet RDF maupun SRF berbasis sampah organik dan limbah kayu menyokong kerangka besar transisi energi Indonesia menuju target Net Zero Emission paling lambat tahun 2060.
Sebagaimana tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), pemerintah dan PT PLN (Persero) secara strategis mendorong perluasan kapasitas energi terbarukan serta implementasi co-firing biomassa dalam bauran energi pembangkit listrik nasional.
Target ini selaras dengan komitmen pengurangan emisi 1,2–1,5 gigaton CO₂e hingga 2035 dan peningkatan kontribusi EBT hingga lebih dari 20 % pada 2030.
Menurut studi LCA terbaru, penggunaan SRF biomassa dapat mengurangi emisi karbon hingga 80 hingga 90 % per unit energi dibandingkan pembakaran batubara konvensional. Upaya ini menjadi bagian penting strategi nasional untuk mewujudkan energi bersih tanpa mengabaikan kebutuhan listrik yang andal.
Menuju Ekonomi Sirkular DaerahProgram ini menjadi contoh nyata penerapan konsep waste to energy dan ekonomi sirkular di tingkat daerah. Sampah tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya energi.
Perwakilan DLH Balikpapan menyatakan: “Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri adalah kunci. Inovasi seperti ini tidak hanya menyelesaikan persoalan sampah, tetapi juga mendukung target penurunan emisi nasional.”
Ke depan, model pendampingan ini diharapkan dapat direplikasi untuk fraksi sampah lain yang memiliki potensi energi, sehingga TPAS Manggar bertransformasi menjadi pusat pemrosesan sumber daya berkelanjutan. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar