BorneoFlash.com, BALIKPAPAN - Beban sampah di TPAS Manggar kian mendesak. Dengan volume sampah harian yang berkisar 380 hingga 450 ton per hari, fasilitas ini diproyeksikan mencapai kapasitas maksimal dalam beberapa tahun ke depan jika tidak dilakukan inovasi pengurangan dari hulu hingga hilir.
Menjawab tantangan tersebut, Tim Solid Recovered Fuel (SRF) dari Institut Teknologi Kalimantan (ITK) melaksanakan pendampingan teknis pengolahan limbah kayu menjadi pellet RDF dan SRF di area gudang bahan bakar jumputan padat TPAS Manggar.
Program ini mendapat dukungan Program Pertamina PFsains kategori Implementation, serta bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan dan UPTD TPAS Manggar.
Program yang didukung PFsains ini bekerja sama dengan DLH Balikpapan dan UPTD TPAS Manggar. Limbah kayu dicacah, dikeringkan, lalu dipadatkan menjadi pellet yang memiliki nilai kalor 3500 hingga 4.000 kkal/kg.
Pellet tersebut dirancang untuk skema co-firing biomassa di PLTU Kaltim Teluk, yakni mencampur biomassa dengan batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik.
“Ini bukan sekadar uji coba, tapi transfer teknologi agar pengelolaan bisa berkelanjutan,” ujar Ketua Tim SRF ITK.
Limbah kayu yang sebelumnya hanya menjadi bagian dari timbunan organik di Gudang jumputan padat, kini diproses melalui tahapan pencacahan, pengeringan, dan densifikasi menjadi pellet bahan bakar padat. Produk ini dirancang sebagai bahan bakar alternatif untuk skema co-firing biomassa di PLTU Kaltim Teluk.
“Kami tidak hanya melakukan uji coba produksi, tetapi juga transfer teknologi kepada operator TPAS, penyusunan SOP, dan pengujian kualitas bahan bakar. Targetnya adalah sistem ini bisa berkelanjutan dan terintegrasi dengan kebutuhan industri,” ujarnya.
Limbah kayu yang selama ini menumpuk di area gudang bahan bakar jumputan padatTPAS Manggar kini diproses melalui teknologi densifikasi dan pengeringan menjadi pellet Solid Recovered Fuel.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar