BorneoFlash.com, BALIKPAPAN - Penanganan stunting menjadi prioritas utama program Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan Posyandu di Kota Balikpapan.
Hal ini ditegaskan Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Balikpapan, sekaligus Ketua Tim Pembina Posyandu masa bakti 2025–2030, Nurlena Rahmad Mas’ud.
Pasalnya, stunting masih menjadi persoalan serius secara nasional, termasuk di Balikpapan. Namun, berkat kerja bersama lintas sektor dan keterlibatan aktif kader Posyandu, angka stunting di kota ini mulai menunjukkan tren penurunan signifikan.
“Stunting ini memang momok di Republik ini. Alhamdulillah, kemarin sudah dikoreksi dan kita bersama-sama berhasil menekan angka stunting dari 22,8 persen menjadi di bawah 20 persen. Sekarang berada di kisaran 18 hingga 17 persen, bahkan mendekati target nasional 17 persen,” ujar Nurlena, usai Pelantikan Pengurus TP PKK dan Tim Posyandu Balikpapan masa bakti 2025-2030, di Auditorium Balai Kota Balikpapan, pada Rabu (14/1/2026).
Ia menekankan, upaya penurunan stunting tidak bisa dilakukan secara parsial. Selain intervensi kesehatan, peningkatan literasi keluarga juga menjadi faktor penting yang harus diperkuat.
“Tingkat membaca di Indonesia, termasuk Balikpapan, masih rendah. Padahal literasi sangat berpengaruh terhadap pola asuh dan kesehatan keluarga. Ini yang terus kita dorong,” katanya.
Sebagai langkah konkret, TP PKK dan Posyandu Balikpapan menginisiasi inovasi pelayanan door to door atau jemput bola, dengan mendatangi langsung rumah-rumah warga yang masuk kategori rawan stunting.
Program ini menyasar keluarga yang telah terdata dan membutuhkan pendampingan khusus.
“Kami datang langsung ke rumah warga. Tidak hanya membawa makanan bergizi, tapi juga dokter dan bidan sesuai kebutuhan keluarga tersebut,” jelas Nurlena.
Ia mengungkapkan, wilayah Balikpapan Barat menjadi salah satu fokus perhatian karena banyak dihuni warga pendatang dengan kondisi ekonomi yang rentan.
Faktor tekanan ekonomi, pengangguran, hingga lingkungan sosial dinilai berkontribusi besar terhadap risiko stunting.
“Banyak ibu hamil yang hidup dalam kondisi tertekan karena faktor ekonomi dan sosial. Ini sangat memengaruhi kesehatan kandungan dan anak,” ujarnya.
Nurlena menambahkan, pelibatan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam kepengurusan saat ini menjadi pembeda dibanding periode sebelumnya. Kolaborasi lintas sektor diharapkan membuat program lebih cepat, tepat, dan langsung menyentuh masyarakat.
“Sekarang semua OPD terkait kita libatkan, supaya program berjalan seiring dan lebih efektif,” tegasnya.
Selain stunting, TP PKK Balikpapan juga menaruh perhatian pada tantangan sosial lain, terutama dampak perkembangan kota sebagai gerbang Ibu Kota Nusantara (IKN), seperti potensi penyalahgunaan narkoba di kalangan generasi muda.
“Kita ingin anak-anak muda lebih banyak berkegiatan positif, bukan sekadar nongkrong yang bisa berujung pada hal-hal yang tidak diinginkan,” pungkas Nurlena.
Adanya kolaborasi kader, Posyandu, Dinas Kesehatan Kota, serta DP3KB, TP PKK Balikpapan optimistis target penurunan stunting dan peningkatan kualitas hidup keluarga dapat tercapai sesuai harapan pemerintah daerah dan provinsi.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar