Salah satu hambatan terbesar adalah insiden kebakaran yang terjadi di area proyek.
“Proyek RDMP ini memang banyak dramanya. Seharusnya bisa direalisasikan awal Mei 2024, tapi terjadi kebakaran. Ada bagian yang terbakar dan ini perlu ditelusuri lebih lanjut,” kata Bahlil.
Ia menambahkan, hasil investigasi awal mengindikasikan adanya pihak-pihak tertentu yang tidak menginginkan Indonesia memiliki cadangan energi yang kuat dan mencapai swasembada.
“Ternyata ada udang di balik batu. Masih ada yang tidak rela kalau kita swasembada energi. Maunya impor terus. Ini harus kita hadapi dan selesaikan,” tegasnya.
Dengan diresmikannya RDMP Balikpapan, Presiden Prabowo menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor.
Proyek ini juga mengukuhkan posisi Kalimantan Timur, khususnya Kota Balikpapan, sebagai pusat industri energi strategis di Indonesia.

Acara peresmian dihadiri jajaran menteri Kabinet Merah Putih, pimpinan PT Pertamina (Persero), serta para pemangku kepentingan sektor energi nasional.
Turut hadir Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri dan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman. (*)





