Sementara itu, pemerintah daerah sejauh ini hanya memberikan imbauan dan pemantauan. Tidak ada informasi mengenai langkah penguatan produksi lokal, stabilisasi pasokan, maupun mekanisme kontrol distribusi.
Kritik juga muncul terkait minimnya transparansi data stok komoditas menjelang hari besar keagamaan. Situasi seperti ini membuka ruang bagi permainan harga, baik di tingkat pemasok maupun distributor.
Selain cabai, bawang merah, bawang putih, dan tomat juga merangkak naik. Namun pemerintah belum mengeluarkan langkah mitigasi apa pun selain memantau perkembangan di lapangan.
Di tengah minimnya intervensi, konsumen tetap menjadi pihak paling dirugikan. Komoditas yang bersifat inelastis seperti cabai memaksa masyarakat tetap membeli meski harga naik.
“Naik turun harga kami tidak bisa lawan. Pembeli tetap butuh cabai,” tambah Rudi.
Tren ini memperlihatkan pola klasik: menjelang Nataru harga naik, pasokan tersendat, dan pedagang kecil serta konsumen menjadi korban.
Tanpa pembenahan serius pada struktur produksi dan distribusi, lonjakan harga akan terus terjadi dari tahun ke tahun.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar