BorneoFlash.com, KUKAR – Kenaikan harga cabai di Tenggarong menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026 kembali menegaskan rapuhnya sistem distribusi pangan di Kutai Kartanegara (Kukar).
Meski fenomena ini terjadi hampir setiap tahun, hingga kini belum terlihat langkah konkret yang mampu menstabilkan pasokan maupun harga.
Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kukar, Ananias, menyebut harga cabai berada di rentang Rp45 ribu-Rp70 ribu per kilogram. Ia berdalih bahwa cuaca lembab dan meningkatnya permintaan menjadi faktor utama.
Namun pengamat pasar menilai penjelasan tersebut tidak cukup, sebab fluktuasi ekstrem ini terus berulang tanpa ada solusi struktural.
Rantai pasok cabai Kukar masih sangat bergantung pada pasokan luar daerah seperti Sulawesi dan Palu, sementara produksi lokal tak kunjung diperkuat.
Salah satu pedagang di Pasar Tangga Arung, Rudi Hartono, mengakui dirinya menjual cabai rawit di harga Rp62 ribu, tetapi menurutnya masalah utama bukan sekadar pedagang menaikkan harga, melainkan ketidakpastian pasokan.
“Kalau kapal kosong atau cuaca buruk, stok terputus. Begitu barang sedikit, harga langsung naik. Kita cuma ikut arus saja,” ungkap Rudi.
Ia mengeluhkan tak ada kepastian jadwal distribusi dari pemasok. Akibatnya, pedagang kecil kerap menanggung risiko barang rusak, ongkos kirim mahal, dan volatilitas harga harian yang tidak bisa ditebak.





