BorneoFlash.com, SAMARINDA – Ancaman banjir dan longsor kini mulai berdampak pada dunia pendidikan di Kota Samarinda.
Sejumlah sekolah diketahui berada di kawasan dengan tingkat kerawanan tinggi, sehingga Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda tengah menyiapkan langkah penanganan jangka panjang berupa relokasi dan penataan ulang tata ruang.
Upaya ini diharapkan dapat memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung dengan aman dan nyaman.
Isu tersebut menjadi pembahasan utama dalam rapat koordinasi antara Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan Dinas Pendidikan (Disdik) Samarinda yang digelar pada Senin (3/11/2025).
Berdasarkan hasil evaluasi awal, terdapat empat sekolah yang diprioritaskan untuk penanganan, yakni SMP Negeri 48 di Jalan Proklamasi, SMP Negeri 24 dan SD Negeri 013 di Jalan Suryanata, serta SMP Negeri 27 di kawasan Batu Cermin.
Kondisi banjir dan pergerakan tanah di lokasi-lokasi tersebut telah terjadi selama bertahun-tahun.
Namun, intensitasnya meningkat seiring bertambah padatnya permukiman di sekitar area sekolah.
Beberapa ruang belajar bahkan tidak lagi bisa difungsikan secara optimal karena sering terendam air setiap kali hujan deras turun.
Kepala Bappeda Kota Samarinda, Ananta Fatuhurrozi, menegaskan bahwa persoalan ini tidak semata-mata terkait kerusakan infrastruktur sekolah, melainkan juga menyangkut keselamatan peserta didik serta keberlangsungan proses pendidikan.
“Masalah ini sudah masuk tahap yang cukup serius. Bukan hanya bangunan yang rusak, tetapi juga menyangkut keamanan siswa dan kelancaran kegiatan belajar. Karena itu, relokasi maupun penataan ulang bangunan menjadi langkah mendesak yang harus segera diputuskan,” ujar Ananta.
Meski demikian, ia menjelaskan bahwa prosesnya masih dalam tahap kajian.
“Laporan yang kami terima masih bersifat sementara. Dinas Pendidikan telah mengajukan beberapa alternatif lokasi relokasi, namun semuanya masih perlu ditinjau lebih lanjut di lapangan sebelum ditetapkan,” jelasnya.
Menurut Ananta, keputusan akhir akan diambil setelah hasil survei dan kajian teknis selesai dilakukan.
“Ada sekolah yang memang perlu dipindahkan, tetapi ada juga yang kemungkinan masih bisa diperkuat melalui rekayasa bangunan. Arahan dari Wali Kota adalah agar dilakukan peninjauan ulang untuk menentukan solusi paling tepat bagi masing-masing sekolah,” tambahnya.
Terkait pemilihan lokasi baru, Ananta menjelaskan bahwa pemerintah memiliki sejumlah pertimbangan utama.
“Idealnya lokasi baru tidak jauh dari tempat sekolah lama agar siswa tetap mudah menjangkau. Kami juga mengutamakan lahan milik pemerintah kota supaya tidak perlu melalui proses pembebasan lahan. Namun, jika opsi itu tidak memungkinkan, pembebasan lahan akan tetap dipertimbangkan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, terdapat dua opsi penanganan yang sedang dikaji: relokasi total atau rekayasa bangunan di lokasi yang sama.
“Kalau lahan pengganti sulit ditemukan, kami bisa melakukan penyesuaian konstruksi agar gedung tetap aman dari risiko banjir dan longsor.
Namun, jika risikonya terlalu tinggi, relokasi menjadi pilihan utama,” katanya.
Ananta menuturkan, pembahasan ini masih akan berlanjut.
“Rapat lanjutan akan dilaksanakan pekan depan untuk menentukan lokasi yang paling layak serta langkah teknis yang akan diambil,” tutupnya.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar