Usai sesi paparan, rombongan melakukan peninjauan langsung ke sejumlah titik utama proyek, termasuk unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) — jantung dari RDMP Balikpapan. Unit berkapasitas 90 ribu barel per hari ini akan mampu mengolah residu menjadi produk bernilai tinggi seperti gasoline, LPG, LCO, DCO, serta propylene untuk industri petrokimia.
Sementara itu, VP Legal & Relation PT KPB, Asep Sulaeman, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah pusat terhadap proyek tersebut.
“Kami terus menjaga transparansi dan memastikan seluruh proses pembangunan berjalan sesuai prinsip keselamatan, kualitas, dan kepatuhan. Kunjungan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat koordinasi dan sinergi dengan pemerintah,” jelasnya.
PT KPB menegaskan bahwa aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) menjadi prioritas utama dalam setiap tahapan pembangunan. Prinsip ini menjadi fondasi penting dalam mewujudkan proyek kilang yang efisien, aman, dan berkelanjutan.
Dengan kolaborasi kuat antara pemerintah dan Pertamina, RDMP Balikpapan dan Lawe-Lawe ditargetkan memasuki tahap uji operasi pada kuartal IV tahun 2025. Proyek ini bukan sekadar investasi infrastruktur, tetapi juga simbol transformasi energi nasional menuju masa depan yang lebih mandiri dan berkelanjutan. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar