Pemprov Kaltim

Cegah Hepatitis Sejak Dalam Kandungan, Dinkes Kaltim Perkuat Skrining untuk Ibu Hamil

lihat foto
Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, Jaya Mualimin. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa
Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, Jaya Mualimin. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa

BorneoFlash.com, SAMARINDA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) terus mengintensifkan langkah pencegahan penyakit hepatitis B dengan menyasar kelompok ibu hamil melalui program skrining secara masif.

Upaya ini menjadi bagian penting dari strategi layanan kesehatan preventif, guna menekan potensi penularan penyakit hati tersebut sejak tahap kehamilan.

Hepatitis B dikenal sebagai penyakit menular yang berisiko tinggi menjadi kronis dan bahkan dapat berkembang menjadi kanker hati apabila tidak terdeteksi sedini mungkin.

Karena itu, deteksi dini pada ibu hamil dianggap sebagai langkah krusial untuk memutus mata rantai penularan, terutama dari ibu ke bayi yang dikandungnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, Jaya Mualimin, menyampaikan bahwa pelaksanaan skrining ini bukan hanya melindungi kesehatan ibu, tetapi juga menjadi langkah awal perlindungan bagi anak yang akan dilahirkan.

"Melalui deteksi sejak dini, tenaga medis dapat segera memberikan penanganan yang tepat agar infeksi tidak ditularkan kepada janin. Ini adalah bagian dari komitmen kami dalam memperkuat layanan kesehatan preventif,"jelasnya saat ditemui.

Data sementara menunjukkan, dari sekitar 55 ribu ibu hamil yang telah menjalani pemeriksaan di seluruh wilayah Kaltim, ditemukan lebih dari 1.190 kasus positif hepatitis B.

Temuan ini mendorong pemerintah untuk memperluas jangkauan skrining serta meningkatkan kapasitas layanan kesehatan primer.

"Kelompok ibu hamil adalah kunci penting dalam memutus rantai penyebaran. Oleh sebab itu, kami terus memperluas intervensi di fasilitas kesehatan agar deteksi dan intervensi bisa dilakukan lebih cepat,"lanjutnya.


Selain menargetkan ibu hamil, Pemprov Kaltim juga memperluas pelaksanaan skrining hepatitis B ke berbagai kelompok berisiko lainnya.

Skrining kini menjadi bagian dari pemeriksaan rutin di lingkungan sekolah, tenaga kesehatan, bayi baru lahir, serta individu yang terdiagnosis HIV yang berisiko mengalami ko-infeksi hepatitis C.

“Vaksinasi tetap menjadi pilar utama dalam upaya pencegahan hepatitis. Karena itu, imunisasi hepatitis telah kami masukkan ke dalam daftar imunisasi dasar yang wajib diberikan sejak anak masih usia dini,"terang Jaya.

Ia juga menambahkan bahwa setiap jenis hepatitis memiliki karakteristik tersendiri.

Hepatitis A umumnya dapat sembuh total tanpa dampak jangka panjang, sedangkan hepatitis B memiliki potensi berkembang menjadi penyakit kronis.

Adapun hepatitis C, kerap berkaitan dengan HIV, memerlukan penanganan khusus dan lebih kompleks.

“Target kami tahun ini adalah menjangkau 96,7 persen dari total populasi sasaran untuk deteksi dini hepatitis B dan C. Ini mencakup ibu hamil, anak sekolah, hingga kelompok rentan lainnya,”tutup Jaya.

Dengan langkah deteksi dini yang diperluas dan pelibatan lintas sektor, Pemerintah Provinsi Kaltim menargetkan penurunan signifikan terhadap beban penyakit hepatitis serta menciptakan generasi yang lebih sehat dan terlindungi. (*)

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar