BorneoFlash.com, SENDAWAR - Banjir yang melanda lima (5) kampung di Kecamatan Bentian Besar, Kabupaten Kutai Barat (Kubar) sejak Rabu (19/1/2022) lalu kini sudah mulai surut.
Sehingga aktivitas masyarakat di kampung-kampung yang semula terendam banjir ini sudah kembali normal.
"Sejak Sabtu (22/1/2022) kemarin, ketinggian air sudah mulai mengalami penurunan. Dan pada waktu sore hari, banjir akibat luapan aliran sungai kecil di sekitar kampung sudah tidak ada lagi," kata Kapolsek Bentian Besar, AKP Andreas saat dihubungi Minggu (23/1/2022) melalui telepon seluler.
Sudah kembali normalnya aliran sungai yang meluap dan menyebabkan banjir tersebut juga membuat jalan Trans Kaltim yang melintasi kecamatan ini juga sudah bisa dilewati. Setelah sebelumnya sempat terendam air dan membuat beberapa kendaraan kesulitan untuk melewatinya.
"Jalan yang sempat tergenang juga sudah bisa dilewati kendaraan roda dua dan roda empat," tegasnya.
Ketinggian air yang semula mencapai 1 hingga 2 meter dan sudah mengalami penurunan tersebut dijelaskan oleh Andreas terbantu dengan tidak adanya hujan deras yang mengguyur kecamatan ini selama dua hari terakhir.
Sehingga aliran air pun cepat kembali normal dan ketinggian banjir bisa segera turun secara drastis.
"Sudah dua hari kemarin tidak ada turun hujan, jadi banjir bisa segera surut. Baru malam tadi ada hujan lagi, tapi intensitasnya biasa," bebernya.
Meskipun demikian, anggota TNI-Polri yang terus membantu mengawasi perkembangan banjir ini tetap mengharapkan seluruh masyarakat untuk waspada.
Sebab, banjir masih mungkin kembali terjadi, dikarenakan saat ini kondisi cuaca di Kubar juga masih dalam musim penghujan.
"Kita selalu memberikan imbauan kepada masyarakat untuk tetap waspada. Meski sudah dua hari ini tidak hujan, tapi sekarang kita masih dalam musim penghujan. Air bisa saja kembali meluap dan menyebabkan banjir jika nanti hujan deras turun," tambahnya.
Diketahui sebelumnya bahwa banjir sempat merendam akses jalan di beberapa kampung di Kecamatan Bentian Besar. Diantaranya adalah Kampung Dilang Puti, Suakong, Penarung, Randa Empas dan Sambung.
Namun, masyarakat tetap memilih berada di rumah dikarenakan bangunan tempat tinggal di kampung tersebut rata-rata menggunakan rumah panggung.
Sehingga air tidak sampai masuk kedalam rumah dan hanya merendam akses jalan. Dan sementara waktu harus beraktivitas hanya dengan menggunakan perahu.
(BorneoFlash.com/Lis)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar