Ia menekankan bahwa kesejahteraan masyarakat sekitar menjadi salah satu indikator utama keberhasilan pembangunan IKN. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kesejahteraan ekonomi perlu diiringi dengan kebahagiaan dan kualitas hidup yang baik.
Alimuddin menegaskan bahwa Balikpapan bukan sekadar penyangga IKN, melainkan mitra strategis dalam pembangunan. Keberadaan IKN di Sepaku tidak terlepas dari dukungan kota-kota sekitar, termasuk Balikpapan dan Samarinda.
Bahkan, menurutnya, Balikpapan menjadi salah satu daerah yang paling awal merasakan dampak pembangunan IKN, baik dari sisi ekonomi maupun tantangan seperti peningkatan volume sampah.
Dengan jumlah penduduk sekitar 800 ribu jiwa, produksi sampah di Balikpapan disebut telah setara kota berpenduduk satu juta orang.
Namun, ia melihat tantangan tersebut juga dapat menjadi peluang ekonomi jika dikelola secara inovatif.
Ia juga mengungkapkan bahwa saat bertugas dalam Satuan Tugas Natal dan Tahun Baru, tercatat sekitar 150 ribu orang berkunjung ke kawasan IKN. Angka tersebut dinilai menunjukkan besarnya daya tarik dan potensi ekonomi yang terus tumbuh.

Dalam jangka panjang, kawasan inti IKN diproyeksikan dihuni hingga dua juta penduduk di dalam deliniasi wilayahnya, sementara kawasan penyangga dan mitra di sekitarnya akan berkembang lebih luas.
“Saya yakin Balikpapan akan menjadi salah satu daerah yang paling banyak menikmati dampak positif pembangunan IKN, apalagi ketika akses tol sudah dibuka,” pungkasnya.
Melalui ajakan tersebut, OIKN berharap masyarakat lokal dapat lebih siap, adaptif, dan berani mengambil peran dalam transformasi besar yang tengah berlangsung di Kalimantan Timur. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar