Sebanyak 20 sekolah turut ambil bagian dalam program ini, terdiri dari 13 SMP dan 7 SMA/MA di wilayah IKN. Seluruh sekolah telah berkomitmen mengembangkan ekstrakurikuler robotika secara berkelanjutan, termasuk membentuk kegiatan resmi serta menunjuk guru pembina.
Sebagai bentuk dukungan konkret, setiap sekolah juga menerima perangkat robotika berupa toolkit, trainer kit, serta dua unit robot, yakni wall follower dan transporter, yang digunakan sebagai sarana praktik.
Antusiasme peserta terlihat dari pengalaman para guru yang mengikuti pelatihan. Salah satu guru dari SMA Negeri 3 Penajam Paser Utara, Ayu Desi Wilujeng, mengaku mendapatkan pengalaman baru di bidang robotika.
“Awalnya kami belum mengetahui robotika sama sekali. Melalui pelatihan daring dan luring ini, kami jadi lebih memahami, apalagi dengan praktik langsung yang sangat membantu,” ujarnya.
Ia menambahkan, sekolahnya berencana membentuk ekstrakurikuler robotika dengan sekitar 20 siswa yang akan dilaksanakan secara rutin setiap pekan sebagai wadah pembinaan sekaligus persiapan menuju kompetisi.
Hal senada disampaikan guru dari SMA Negeri 2 Samboja, Dwi Setyo Prabowo, yang menyebut pelatihan ini sebagai pengalaman pertama bagi sekolahnya.

“Untuk sekolah kami, ini merupakan pengalaman pertama dalam pelatihan robotika. Saya pribadi merasa sangat tertantang dan tertarik karena ini hal baru, sementara perkembangan teknologi saat ini sangat cepat,” tuturnya.
Ia berharap program ini mampu membuka wawasan siswa terhadap teknologi robotika sejak dini serta mempersiapkan mereka menghadapi perkembangan teknologi ke depan.
Melalui program ini, Otorita IKN berharap sekolah-sekolah peserta dapat menjadi model percontohan yang dapat direplikasi oleh sekolah lain, sehingga ekosistem pembelajaran berbasis teknologi yang inovatif, kreatif, dan adaptif dapat tumbuh secara luas di kawasan Ibu Kota Nusantara. (*/Humas Otorita IKN)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar