Namun demikian, Syarifuddin menyebut pemberian huntara masih menunggu hasil pemantauan situasi dan kebutuhan riil di lapangan.
“Yang pasti, saat ini pemerintah daerah telah menyediakan tempat pengungsian sementara lengkap dengan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan makan korban banjir,” jelasnya.
Untuk status bencana, Pemprov Kalsel hingga kini masih menetapkan status siaga dan terus memantau perkembangan situasi ke depan.
“Status bencana masih siaga. Perkembangan akan terus kami pantau,” tambahnya.
Selain meninjau lokasi banjir bersama Mensos, Syarifuddin dan jajaran juga menyambangi warga terdampak untuk memberikan dukungan psikososial, sekaligus meninjau dapur umum yang dikelola relawan. Ribuan porsi makanan disiapkan setiap hari untuk dibagikan kepada pengungsi maupun warga yang masih bertahan di rumah.
Sebelumnya, pada 30 Desember 2025, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq saat meninjau banjir di Desa Bincau, Martapura, Kabupaten Banjar, menyatakan akan segera melakukan audit terhadap sejumlah perusahaan, khususnya sektor pertambangan di Kalsel, yang diduga melanggar ketentuan lingkungan.
“KLH sudah mendata beberapa perusahaan yang diduga melakukan pelanggaran terkait lingkungan,” ujar Hanif. (*/BorneoFlash/ANTARA)






