Dalam program tersebut, Distanak menyediakan sarana dasar seperti kandang, bibit, dan pakan. Namun untuk distribusi dan penjualan, kelompok peternak didorong bekerja sama dengan Satuan Pelaksana Penyedia Pangan dan Gizi (SPPG), koperasi, maupun BUMDes.
“Koordinasinya mereka yang atur. Kami hanya menyiapkan pondasinya,” jelas Aji.
Ia juga menekankan bahwa seluruh bantuan diberikan atas dasar usulan dari masyarakat. Mekanisme bottom-up ini dinilai lebih efektif dari pada bantuan top-down yang sering berakhir tanpa komitmen penerima.
“Kalau tanpa permintaan, bisa saja mereka tidak siap. Dengan usulan dari bawah, komitmennya lebih kuat,” tegasnya.
Distanak turut memberikan pelatihan rutin agar usaha ayam petelur dapat berumur panjang, bukan hanya berjalan saat bantuan baru diterima. Sejumlah BUMDes kini bahkan mulai terlibat sebagai distributor telur bagi berbagai kebutuhan daerah.
Dengan produksi lokal yang meningkat dan kemitraan distribusi yang semakin meluas, Kukar menargetkan ketersediaan telur tetap terjaga sekaligus memberi dampak ekonomi langsung kepada masyarakat.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar