Ketua WI Kukar, Faidil Fasha, menilai bahwa keberangkatan Devan dan Ferdianto bukan semata-mata misi prestasi, tetapi menjadi bagian dari transformasi jangka panjang yang sedang dikerjakan.
“Kami ingin atlet daerah punya referensi tanding yang lebih luas. Pengalaman internasional seperti ini akan menjadi umpan balik paling penting untuk pelatih, klub, dan sistem pembinaan kita,” ujar Faidil.
Ia menyebut atmosfer kompetisi seperti Warzone akan menantang mental tanding atlet, sekaligus mengukur apakah latihan-latihan yang selama ini dilakukan sudah cukup adaptif terhadap perkembangan teknik global.
Kukar sendiri sedang membangun rutinitas kompetisi yang lebih terstruktur dan berharap pengalaman dua atlet muda ini akan memperkaya rancangan tersebut.
Keikutsertaan Devan dan Ferdianto diharapkan menjadi pemantik hadirnya lebih banyak atlet Kukar yang mampu menembus turnamen internasional.
Jika hasil yang mereka bawa dari Malaysia positif, baik dari capaian maupun pengalaman teknis WI Kukar berencana memperluas jalur pembinaan, termasuk peningkatan fasilitas latihan serta penjaringan atlet usia dini.
Dengan demikian, keberangkatan dua talenta muda Kukar ke Warzone World Championship bukan hanya perjalanan kompetisi, tetapi juga penilaian objektif atas kesiapan daerah untuk menghasilkan atlet berstandar dunia.






