Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua Komisi II, Anastasia Hiyang, S.IP., M.Si, menilai bahwa meskipun sektor pariwisata belum menjadi prioritas utama dalam pembangunan daerah, namun potensi wisata Mahulu sangat besar untuk dikembangkan. Ia menegaskan pentingnya pendampingan masyarakat oleh Disparpora, terutama dalam pelaksanaan event tahunan yang sudah terjadwal.
“Walau terkena efisiensi anggaran dari pusat, bukan berarti kita berhenti meningkatkan sektor pariwisata,” tegas Anastasia.
Menanggapi hal itu, Sekretaris Disparpora, Irawan Sanjaya, menjelaskan bahwa peningkatan sektor pariwisata tidak bisa dipisahkan dari perkembangan ekonomi kreatif (ekraf). Keduanya saling berkaitan dan menjadi bagian dari strategi pengembangan daerah.
“Pariwisata dan ekonomi kreatif itu seperti dua sisi mata uang. Jika ekonomi kreatif tumbuh, maka pariwisata juga akan berkembang,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pada tahun ini Disparpora fokus pada pengembangan Wisata Batu Dinding, sementara tahun depan akan berlanjut ke Wisata Sungai Medang dan Pemandian Kelukup.
Dalam aspek ekonomi kreatif, Irawan menyebut bahwa pihaknya tengah mengembangkan tiga potensi utama, yaitu seni pertunjukan, musik, dan kerajinan tangan. Tahap saat ini masih pada pelatihan dan pembinaan masyarakat agar potensi tersebut dapat dioptimalkan menjadi sumber PAD bagi Mahulu.
DPRD Mahulu melalui Komisi II berharap hasil rapat pengawasan ini dapat menjadi momentum memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan OPD terkait dalam menyusun program yang pro rakyat, efisien, serta berkelanjutan demi kemajuan sektor pariwisata dan kesejahteraan masyarakat Mahulu. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar