Berita Kota Samarinda

Psikolog Sebut Tekanan Mental dan Ketimpangan Peran Bisa Picu Ayah Bunuh Anak di Samarinda

lihat foto
Ilustrasi kekerasan pada anak. Foto: Getty Images/iStockphoto/takasuu.
Ilustrasi kekerasan pada anak. Foto: Getty Images/iStockphoto/takasuu.

BorneoFlash.com

, SAMARINDA - Tragedi yang menimpa dua balita di Samarinda, yang diduga menjadi korban tindakan kekerasan dari ayah kandungnya sendiri, menggugah keprihatinan banyak pihak.

Kalangan psikolog turut menyoroti peristiwa ini dengan mencoba memahami latar belakang psikologis di balik tindakannya.

Ayunda, seorang psikolog dari UPT-DPPA Samarinda, menjelaskan bahwa tindakan pembunuhan terhadap anak oleh orang tua, dalam ranah psikologi dikenal sebagai filicide.

Ia menilai, kondisi ini tidak dapat dijelaskan dari satu aspek saja.

“Dalam kasus filicide, ada berbagai kemungkinan penyebab yang berkelindan. Faktor psikologis, tekanan dari lingkungan, ketidakseimbangan peran dalam keluarga, serta kesulitan dalam mengatur emosi dapat menjadi pemicunya,”jelas Ayunda.

Menurutnya, tekanan sosial juga dapat memperburuk keadaan, apalagi jika pelaku merasa gagal menjalankan peran sebagai kepala keluarga.

Informasi yang ia himpun menyebutkan bahwa pelaku tidak bekerja, sementara sang istri justru menjadi pencari nafkah utama.

"Situasi seperti itu bisa menimbulkan tekanan internal, terutama dalam budaya kita yang masih menempatkan laki-laki sebagai pemimpin rumah tangga. Ketimpangan peran ini, bila tidak diimbangi dengan kemampuan emosional yang matang, bisa menimbulkan frustrasi,”tambahnya.

Apalagi, kata Ayunda, usia pelaku yang masih tergolong muda baru 24 tahun membuatnya lebih rentan terhadap tekanan psikologis berkepanjangan.


Ketika rasa tidak berdaya tidak ditangani dengan baik, bisa berubah menjadi bentuk agresi ekstrem.

“Perubahan perilaku semacam ini seharusnya bisa dikenali lebih awal. Lingkungan sekitar memegang peranan penting untuk lebih peka dan peduli terhadap sinyal-sinyal gangguan,”tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menggali kemungkinan gangguan mental atau pengaruh zat tertentu yang mungkin dialami pelaku.

“Perilaku ekstrem seperti ini sering kali berkaitan dengan kondisi mental yang terganggu. Saat seseorang mengalami gangguan kejiwaan, cara mereka memproses informasi dan mengendalikan emosi pun akan ikut terganggu,”ujarnya.

Dari sisi keluarga, Nabila adik kandung pelaku mengungkapkan bahwa kakaknya sempat mengalami perubahan perilaku yang mencolok selama sebulan terakhir.

Sebelumnya, sosoknya dikenal ramah dan aktif bersosialisasi, namun belakangan tampak murung dan menarik diri.

“Dulu dia orangnya ceria dan gampang bergaul, baik dengan tetangga maupun keluarga. Tapi beberapa waktu terakhir dia mulai berubah, tidak bekerja lagi, dan sering terlihat menyendiri di rumah,”tutur Nabila.

Ia menambahkan bahwa kakaknya juga memiliki masalah kesehatan lambung yang membuat kondisinya lemah secara fisik.

Namun demikian, keluarganya tidak pernah menyangka tragedi semacam ini bisa terjadi.

“Dia masih mengurus anak-anaknya seperti biasa. Menyuapi dan memandikan mereka. Tapi mungkin ada hal-hal yang selama ini dipendam, yang tidak kami ketahui,”lanjutnya.


Terkait hubungan rumah tangga kakaknya, Nabila menyebut sempat ada keretakan namun tidak sampai berujung pada perceraian.

“Memang sempat renggang, tapi saat kejadian mereka masih tinggal satu atap,”ungkapnya.

Lebih jauh, Ayunda mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar guna mencegah tragedi serupa terjadi kembali.

“Kepedulian sosial adalah benteng pertama. Jika mendengar ada keributan, pertengkaran, atau tangisan di rumah tetangga, jangan diam saja. Tindakan nyata jauh lebih berarti daripada hanya merasa prihatin saat semuanya sudah terlambat,”ujarnya.

Ia juga mendorong warga untuk memanfaatkan fasilitas konseling yang tersedia secara gratis melalui layanan pemerintah.

“Layanan seperti Puspaga dan UPT-DPPA terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan bantuan. Jangan ragu untuk berbicara, apalagi jika sedang berada dalam tekanan. Mencari pertolongan bukanlah kelemahan,”tuturnya.

Sebagai penutup, Ayunda menegaskan bahwa anak-anak tidak seharusnya menjadi korban dari persoalan orang dewasa.

“Sebesar apapun persoalan dalam rumah tangga, anak tidak boleh dijadikan pelampiasan. Mereka berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang,”pungkasnya. (*)

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar