Setelah dilakukan tindakan USG, ternyata memang kondisi Affan sudah parah dan usus buntu Affan sudah pecah. Sebagai informasi, saat usus buntu pecah, kotoran termasuk sisa-sisa pencernaan dan lendir yang mengandung kuman bisa menyebar ke perut dan seluruh tubuh. Hal ini tentu amat membahayakan nyawa pengidapnya.
“Saya tidak tahu darimana saya mencari biaya untuk anak saya yang harus segera menjalani operasi jika tidak ada BPJS Kesehatan. Saya juga sempat cari-cari tahu informasi mengenai biaya operasi usus buntu, ternyata membutuhkan biaya sampai puluhan juta belum dengan biaya rawat inap, obat dan lainnya. Alhamdulillah dengan BPJS Kesehatan sampai saat ini saya tidak diminta biaya sama sekali,” ucap Indri.
Sebagai seorang Ibu Rumah Tangga, Indri merasa tenang setelah anaknya menjalani operasi usus buntu dengan seluruh biaya ditanggung BPJS Kesehatan. Selain ia telah merasakan begitu besar manfaat yang ia rasakan dari program JKN, ia juga mengaku merasa puas dengan pelayanan yang diberikan pihak rumah sakit. Indri menyampaikan bahwa ia tidak merasakan diskriminasi antara pasien umum dengan pasien BPJS Kesehatan.
“Pihak rumah sakit sangat membantu dari awal anak saya masuk IGD. Saat anak saya kesakitan petugas IGD dengan sigap menangani anak saya mulai dari USG hingga mendapatkan kamar rawat inap. Seluruh pelayanan yang diberikan juga baik, tidak ada perbedaan antara pasien BPJS Kesehatan dengan pasien umum,” jelas Indri.
Pada akhir wawancara dengan tim Jamkesnews, Indri menyampaikan harapannya untuk program JKN agar terus berjalan karena telah membantu banyak masyarakat dari seluruh kalangan.
“Saya pribadi sangat berterimakasih kepada BPJS Kesehatan karena telah banyak membantu keluarga saya. Melihat begitu besar manfaat yang diberikan untuk masyarakat, saya berharap programnya terus berjalan dan pelayanan yang diberikan terus ditingkatkan.” (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar