Ramadhan 1444 H

Jelang Ramadhan, Ziarah Kubur Berkaitan Erat dengan Budaya Indonesia

lihat foto
Ziarah kubur menjelang bulan Puasa Ramadhan telah menjadi tradisi khas umat Muslim di seluruh penjuru Nusantara. kegiatan ini disebut nyadran atau nyekar. Umumnya, ziarah kubur dilakukan saat memasuki bulan Ramadhan.
Ziarah kubur menjelang bulan Puasa Ramadhan telah menjadi tradisi khas umat Muslim di seluruh penjuru Nusantara. kegiatan ini disebut nyadran atau nyekar. Umumnya, ziarah kubur dilakukan saat memasuki bulan Ramadhan.

BorneoFlash.com - Ziarah kubur menjelang bulan Puasa Ramadhan telah menjadi tradisi khas umat Muslim di seluruh penjuru Nusantara.

kegiatan ini disebut nyadran atau nyekar. Umumnya, ziarah kubur dilakukan saat memasuki bulan Ramadhan.

Kegiatan ini diperbolehkan dan memiliki manfaat dalam mengingatkan kembali akan dekatnya kematian serta memintakan ampunan bagi ahli kubur.

Pada masa awal Islam, ziarah kubur dilarang karena dalam tradisi Arab, ziarah sering digunakan untuk mendewakan seseorang dan praktik menyekutukan Allah.

Selain itu, ada peziarah yang berteriak, memukul-mukul badan, dan menangis berlebihan. Namun, setelah Islam memiliki pondasi yang kuat, larangan itu dicabut.

Nabi Muhammad SAW justru menganjurkan ziarah sebagai upaya agar tidak terjebak pada dunia dan mengingat mati. Rasulullah bersabda dalam hadits riwayat Ibnu Mas'ud, "Aku telah melarang kalian dari ziarah kuburan, sekarang berziarahlah. Karena ia dapat menjadikan zuhud di dunia dan ingat dengan akhirat."


Berdasarkan hadis tersebut, ziarah kubur adalah hal yang diperbolehkan dan bahkan dianjurkan atau sunnah. Anjuran untuk melaksanakan ziarah kubur ini bersifat umum, baik menziarahi kuburan orang-orang saleh maupun orang Islam secara umum.

Dalam Shahih Muslim, dijelaskan bahwa setiap kali keluar rumah pada akhir malam menuju Baqi’ (makam para sahabat di Madinah yang kini menjadi makam Rasulullah sendiri), Rasulullah menyapa penduduk makam dengan kalimat berikut, "Assalamualaikum, hai tempat bersemayam kaum mukmin.

Telah datang kepada kalian janji Tuhan yang sempat ditangguhkan besok, dan kami insyaallah akan menyusul kalian." Setelah membaca salam ini, Rasulullah berdoa dengan kalimat, "Ya Allah, ampunilah orang-orang yang disemayamkan di Baqi’." Doa ini dapat diganti dengan memohonkan ampun kepada para ahli kubur tempat peziarah berkunjung.

Siti Aisyah, istri Rasulullah, pernah bertanya tentang apa yang seharusnya dibaca ketika pergi ke kuburan. Rasulullah mengajarkan bacaan dengan kalimat lain, namun dengan substansi yang tetap mirip. Yaitu, mengucapkan salam, mendoakan kebaikan bagi ahli kubur, dan menyadari bahwa peziarah pun suatu saat akan berbaring di dalam tanah.

Berikut adalah jawaban Rasulullah terkait doa ziarah kubur, "Assalamualaikum, hai para mukmin dan muslim yang bersemayam dalam kubur. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka yang telah mendahului dan yang akan menyusul kalian dan [yang telah mendahului dan akan menyusul] kami. Sesungguhnya kami Menziarahi Kubur: Makna, Manfaat, dan Cara yang Dianjurkan oleh Islam

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar