BorneoFlash.com, UJOH BILANG - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) menunjukan yang cukup signifikan dalam tiga bulan terakhir.
Sesuai data di Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) per akhir Oktober 2022 tercatat ada 111 kasus. Dengan angka korban (pasien) meninggal dunia ada 3 orang.
Plt Kepala Dinkes P2KB Mahulu Petronela Tugan, Rabu (23/11/2022) mengatakan, peningkatan yang cukup signifikan terjadi sejak Agustus hingga Oktober 2022. Sebelumnya, pada periode Januari hingga Agustus tercatat ada 80 kasus.
Dibandingkan tahun sebelumnya, kata Petronela, terjadi peningkatan yang signifikan. Yaitu 3 kali lipat lebih. Di mana diketahui pada 2021 lalu, hanya ada 35 kasus DBD di Mahulu. Dengan demikian, bisa dikategorikan Mahulu dengan status Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD.
“Sebuah kasus dikatakan KLB kalau terjadi peningkatan dua kali lipat. Sementara ini, di Mahulu 3 kali lipat lebih. Hanya saja, untuk sementara kita masih terapkan status siaga,” kata Petronela.
Berbagai langkah pun dilakukan oleh Dinkes P2KB Mahulu untuk mencegah penyebaran DBD semakin meluas, dan mencegah semakin bertambahnya korban.
“Untuk saat ini focus penanganan kita di wilayah Kecamatan Long Bagun. Meski di wilayah-wilayah lainnya, juga tetap kita lakukan upaya pencegahan,” ujarnya lagi.
Salah satu yang dilakukan oleh Dinkes P2KB, kata dia, adalah dengan terus mengedukasi dan memberi imbauan ke masyarakat untuk mengantisipasi meluasnya wabah DBD.
“Beberapa upaya yang kita lakukan, antara lain melakukan PSN (pemberantasan sarang nyamuk).
Kemudian pembagian bubuk abate, untuk ditaburkan di genangan-genangan air yang ada di lingkungan masyarakat, maupun di tempat tinggal. Dan yang tak kalah penting adalah mengedukasi masyarakat, untuk menjaga kebersihan lingkungan,” ujarnya.
Dalam upaya pencegahan ini, dia mengatakan, Dinkes P2KB akan melibatkan para pihak terkait lainnya. Seperti TNI/Polri melalui Babinsa, Babinkamtibmas, juga aparat kampung.
“Rencana Jumat besok kita akan bergerak turun ke lapangan. Nanti akan kita libatkan pihak-pihak lain untuk bersama-sama turun melakukan upaya pencegahan,” kata dia.
Selain faktor lingkungan, Petronela mengatakan, peningkatan kasus DBD, juga tidak terlepas dari kondisi cuaca yang sering berubah-ubah. Apalagi belakangan di Mahulu kerap diguyur hujan. Sehingga membuat banyak genangan air yang menjadi tempat jentik nyamuk berkembang.
Lebih jauh dia menjelaskan, DBD ditularkan melalui virus yang dibawa oleh nyamuk aedes aegypti. Di mana manusia yang tertular tersebut akan mengalami gejala DBD. Di antaranya demam dan panas tinggi.
“Untuk itu, kami imbau kepada masyarakat, agar segera membawa ke Puskesmas atau Rumah Sakit, jika menemui anggota keluarga mengalami gejala yang mengarah ke DBD. Seperti demam dan panas tinggi. Sebab jika penanganannya lambat, bisa berakibat fatal. Bahkan dapat menyebabkan kematian,” bebernya.
Upaya lain, tak hanya abatesiasi, Dinkes P2KB juga melakukan tindakan pengasapan atau fogging. Hanya saja, fogging hanya membunuh nyamuk dewasa saja, bukan membunuh jentik.
“Langkah terpenting adalah memberantas jentik nyamuknya. Yaitu dengan cara pembersihan, menutup tempat tampungan air, serta menaburkan bubuk abate tadi,” imbuhnya. (Adv)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar