BorneoFlash.com, BERAU - Matahari bersinar terang di atas langit Pulau Maratua. Ombak pelan berdebur di pulau terluar Kabupaten Berau ini. Bagi sebagian orang pulau ini salah satu surga bawah laut. Tapi berbeda artinya untuk para prajurit di Pos TNI AL Maratua.
Pulau ini tidak saja jauh secara jarak. Itu bisa berarti isolasi karena jauh dari keluarga tercinta. Obatnya tentu lewat sambungan dunia maya yang terhubung.
Sebelum Desember 2025, berkomunikasi mungkin adalah kemewahan di pos ini. Sinyal seluler sering timbul tenggelam bak lumba-lumba di lautan. Ketika jaringan hilang, para personel harus berjalan jauh menuju resor wisata terdekat. Mereka menumpang internet satelit milik swasta hanya untuk mengirim kabar pendek kepada istri atau orang tua.
Kini, hambatan itu perlahan berkurang Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mewujudkan mimpi para penjaga pulau terluar.

Layanan internet andal kini mengalir langsung ke lokasi mereka bertugas. Langkah nyata ini berawal dari usulan strategis pihak TNI pada tahun sebelumnya.
Kehadiran internet ini memicu perubahan besar bagi psikologis prajurit. Tugas menjaga kedaulatan negara terasa lebih ringan saat suara anak dan istri terdengar jernih setiap malam.
Internet bukan lagi sekadar urusan militer, melainkan jembatan kemanusiaan yang menghangatkan ruang isolasi.
“Kami ingin memastikan seluruh penjaga benteng pertahanan negara tetap terhubung dengan pusat dan keluarga mereka tanpa kendala," ujar Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Infrastruktur BAKTI Komdigi, Darien Aldiano, pada Kamis (11/6/2026).
Hebatnya lagi, manfaat teknologi ini meluap hingga ke luar dinding pos. Para petugas membuka pintu silaturahmi bagi warga lokal yang membutuhkan akses komunikasi.
Anak-anak sekolah dan nelayan sekitar kerap datang meminta izin menggunakan jaringan tersebut. Sinergi ini melahirkan kehangatan baru antara TNI dan masyarakat pesisir Maratua.

Negara hadir tidak hanya lewat senjata, tetapi juga lewat sinyal yang menyatukan. Internet di ujung Berau ini membuktikan bahwa wilayah terluar bukan berarti terlupakan.
Kini, para prajurit bisa menatap laut lepas dengan tenang, sembari menggenggam erat kehangatan rumah di tangan mereka. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar