BorneoFlash.com, SAMARINDA - Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Ikatan Keluarga Besar (IKABES) Sriwijaya Kalimantan Timur (Kaltim) sukses menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) di Hotel Claro Pandurata, kawasan Stadion Kadrie Oening, Sempaja Selatan, Kota Samarinda, pada Sabtu malam (14/2/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus menyusun arah strategis menghadapi agenda besar ke depan.
Rakerwil dihadiri jajaran pengurus DPW, DPD, serta perwakilan anggota IKABES Sriwijaya dari berbagai kabupaten/kota di Kaltim.
Sejak awal hingga akhir kegiatan, suasana kekeluargaan dan semangat kebersamaan terasa kuat, mencerminkan soliditas organisasi perantau asal Sumatera bagian selatan tersebut.
Forum ini tidak hanya menjadi ruang silaturahmi, tetapi juga wadah strategis untuk merumuskan program kerja, memperkuat struktur organisasi, serta menghimpun gagasan inovatif dari seluruh anggota IKABES Sriwijaya.
Ketua DPW IKABES Sriwijaya Kaltim, Rusdi Doviyanto, menjelaskan bahwa Rakerwil merupakan amanat Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi yang harus dilaksanakan secara berkala.
Karena itu, seluruh perwakilan daerah diundang agar dapat berpartisipasi aktif dalam menentukan arah organisasi.
“Selain evaluasi program kerja, Rakerwil ini juga membahas persiapan Musyawarah Wilayah (Muswil) yang akan digelar untuk kepengurusan periode 2026 hingga 2030. Ini menjadi fase penting bagi kesinambungan organisasi,” ujarnya.
Rusdi berharap, melalui Rakerwil ini, organisasi yang telah berdiri lebih dari satu dekade tersebut semakin matang dalam menghadapi berbagai tantangan, baik di tingkat daerah maupun provinsi. Ia menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman latar belakang budaya anggota.
Menurutnya, IKABES Sriwijaya yang merupakan wadah bagi Perantauan dari lima provinsi di Sumatera bagian selatan (SUMBAGSEL), yakni Sumatera Selatan, Lampung, Bangka Belitung, Jambi, dan Bengkulu.
Keberagaman itu, kata dia, harus menjadi kekuatan kolektif untuk saling mendukung di tanah perantauan.
“Di mana langit dijunjung, di sana bumi dipijak. Dirantau kito pacak. Artinya, di mana pun kita berada, kita harus mampu beradaptasi, berkontribusi, dan membawa nama baik daerah asal serta organisasi,” tutupnya. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar