Berita Kaltim Terkini

Pemerintah Siapkan Langkah Darurat Selamatkan Pesut di Sungai Mahakam

lihat foto
Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, saat melakukan peninjauan pengolahan sampah di Balikpapan, pada Jumat (6/2/2026). Foto: BorneoFlash/Niken Sulastri
Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, saat melakukan peninjauan pengolahan sampah di Balikpapan, pada Jumat (6/2/2026). Foto: BorneoFlash/Niken Sulastri

BorneoFlash.com, BALIKPAPAN - Harapan hidup pesut air tawar di Sungai Mahakam kini berada di ujung waktu.

Populasinya yang tersisa hanya 66 ekor membuat pemerintah menyiapkan langkah-langkah darurat, guna menyelamatkan satu-satunya mamalia air tawar endemik Indonesia tersebut dari kepunahan.

Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq, dijadwalkan turun langsung ke Sungai Mahakam untuk meninjau kondisi habitat pesut dan mengidentifikasi berbagai gangguan yang kian mengancam keberadaannya.

“Waktu saya berkunjung jumlah pesut masih 62 ekor, sekarang menjadi 66. Ada kelahiran, tapi juga ada kematian. Ini menunjukkan situasinya masih sangat rapuh,” ujar Hanif, saat melakukan peninjauan pengolahan sampah di Balikpapan, pada Jumat (6/2/2026).

Peninjauan lapangan akan dilakukan bersama tim lintas kementerian, melibatkan Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Perhubungan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, serta instansi terkait lainnya.

Fokus utama adalah merumuskan langkah konkret untuk memperbaiki dan melindungi habitat pesut.

Salah satu ancaman terbesar yang disoroti adalah aktivitas pengangkutan batu bara yang masih melintasi sungai-sungai kecil di kawasan habitat pesut.

Padahal, dua sungai utama yang menjadi jalur hidup pesut telah ditetapkan sebagai sungai konservasi oleh Kementerian KKP dan secara regulasi tidak diperbolehkan dilalui tongkang, berdasarkan aturan Kementerian Perhubungan.


“Data yang masuk ke kami menunjukkan sungai konservasi masih dilalui tongkang batu bara. Ini jelas melanggar dan akan kami pastikan langsung di lapangan,” tegas Hanif.

Ia menyatakan, pemerintah akan segera mengimbau penghentian aktivitas tersebut. Jika masih ditemukan pelanggaran, langkah hukum siap ditempuh sebagai upaya terakhir demi menyelamatkan populasi pesut.

“Pesut air tawar di Indonesia hanya ada di Mahakam. Kalau ini hilang, maka hilang selamanya. Tidak ada tempat lain,” katanya.

Hanif juga mengenang masa 1990-an, ketika pesut masih mudah dijumpai di tepian Sungai Mahakam hingga kawasan Samarinda.

Kini, pemandangan itu nyaris tak tersisa, tergeser oleh aktivitas manusia dan degradasi lingkungan yang semakin marak.

“Dulu pesut sering terlihat di Samarinda, sekarang sudah tidak ada. Ini alarm keras bagi kita semua,” ujarnya.

Adanya kerja sama lintas sektor dan komitmen penegakan aturan, pemerintah berharap habitat pesut Mahakam dapat kembali pulih dan populasinya perlahan meningkat.

Langkah bersama ini bisa memperpanjang harapan hidup pesut Mahakam. "Mudah-mudahan kita bisa meningkatkan satwa pesut,” harapnya. (*)

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar