Data Bicara: HIV di Kukar Terkendali, Stigma Masih Menghantui

oleh -
Penulis: Ernita Sriana
Editor: Ardiansyah
Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Kabupaten Kukar. Foto: BorneoFlash/Ernita Sriana
Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Kabupaten Kukar. Foto: BorneoFlash/Ernita Sriana
banner 300×250

Untuk mengatasi hambatan stigma tersebut, KPAD Kukar menggandeng komunitas peduli HIV/AIDS, seperti Makam Plus. Pendekatan berbasis komunitas dinilai efektif karena masih banyak ODHA yang memilih menutup diri akibat rasa takut dikucilkan.

 

“Masih ada anggapan bahwa HIV adalah aib. Ini yang terus kami lawan,” ujarnya.

 

Hasil skrining juga menunjukkan mayoritas kasus ditemukan pada kelompok usia muda. Temuan ini menjadi perhatian serius KPAD Kukar, namun Taufik menekankan bahwa fakta tersebut harus dijawab dengan edukasi dan pencegahan, bukan penghakiman.

 

“HIV adalah bagian dari layanan kesehatan dasar, sama seperti penyakit menular lain. Penularannya sebagian besar melalui hubungan berisiko, dan ada juga dari ibu ke anak meski jumlahnya kecil. Ini fakta medis, bukan bahan stigma,” ucapnya.

 

Sementara itu, Pengelola Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Kukar, Masliana, memastikan layanan kesehatan di Kukar siap menangani HIV/AIDS. 

 

Saat ini terdapat sembilan puskesmas, tiga rumah sakit umum daerah, dan dua klinik yang melayani pemeriksaan serta pengobatan HIV.

 

Ia menjelaskan, pemeriksaan HIV dilakukan secara bertahap untuk memastikan keakuratan hasil. Pasien yang terkonfirmasi positif akan menjalani terapi antiretroviral (ARV) secara rutin.

 

“ARV berfungsi menekan perkembangan virus dalam tubuh. Dengan pengobatan teratur, ODHA tetap bisa hidup sehat dan produktif,” jelas Masliana.

 

Ia berharap sinergi antara KPAD, Dinas Kesehatan, dan komunitas tidak hanya memperkuat pengendalian HIV/AIDS, tetapi juga mengubah cara pandang masyarakat.

 

“Selama stigma masih lebih kuat daripada kesadaran, maka upaya pencegahan akan selalu terhambat. Data sudah bicara, sekarang giliran masyarakat belajar memahami,” tutupnya.

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.