Berita Kukar Terkini

Data Bicara: HIV di Kukar Terkendali, Stigma Masih Menghantui

lihat foto
Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Kabupaten Kukar. Foto: BorneoFlash/Ernita Sriana
Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Kabupaten Kukar. Foto: BorneoFlash/Ernita Sriana

BorneoFlash.com, KUKAR - Ketika angka HIV/AIDS di Kutai Kartanegara (Kukar) terlihat meningkat, sebagian publik buru-buru menarik kesimpulan: penularan dianggap makin tak terkendali.

Namun data justru berkata sebaliknya. Pemerintah daerah menegaskan, yang masih menjadi masalah serius hingga hari ini bukan lonjakan kasus, melainkan stigma yang membuat masyarakat takut diperiksa dan enggan berobat.

Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kukar, Akhmad Taufik Hidayat, mengatakan meningkatnya jumlah kasus yang terdata merupakan dampak langsung dari skrining yang dilakukan secara aktif dan masif.

Pemerintah daerah, kata dia, memberikan dukungan anggaran agar deteksi dini dapat menjangkau berbagai kelompok masyarakat.

“Skrining kami lakukan ke mahasiswa, organisasi kemasyarakatan, ASN, hingga perusahaan. Dari sinilah data muncul. Jadi ini bukan ledakan kasus, tapi hasil dari upaya deteksi yang serius,” ujarnya, pada Kamis (18/12/2025).

Taufik menegaskan, tingginya angka temuan kerap disalahartikan sebagai kegagalan penanganan. Padahal, ODHA yang terdata justru berada dalam pengawasan dan mendapatkan layanan kesehatan secara berkelanjutan.

“Yang berbahaya itu justru ketika orang tidak mau diperiksa karena takut dicap. Data menunjukkan pengendalian berjalan, tapi stigma masih menghantui,” tegasnya.

Setiap warga yang terkonfirmasi sebagai Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA), lanjut Taufik, langsung masuk dalam sistem pendampingan KPAD Kukar.

Pendampingan tersebut meliputi pengobatan, dukungan psikologis, hingga bantuan sosial agar ODHA tetap memiliki kepercayaan diri dan kualitas hidup yang baik.

“HIV bisa dikendalikan dengan pengobatan rutin. Yang sering membuat ODHA terpuruk justru perlakuan lingkungan, bukan penyakitnya,” katanya.


Untuk mengatasi hambatan stigma tersebut, KPAD Kukar menggandeng komunitas peduli HIV/AIDS, seperti Makam Plus. Pendekatan berbasis komunitas dinilai efektif karena masih banyak ODHA yang memilih menutup diri akibat rasa takut dikucilkan.

“Masih ada anggapan bahwa HIV adalah aib. Ini yang terus kami lawan,” ujarnya.

Hasil skrining juga menunjukkan mayoritas kasus ditemukan pada kelompok usia muda. Temuan ini menjadi perhatian serius KPAD Kukar, namun Taufik menekankan bahwa fakta tersebut harus dijawab dengan edukasi dan pencegahan, bukan penghakiman.

“HIV adalah bagian dari layanan kesehatan dasar, sama seperti penyakit menular lain. Penularannya sebagian besar melalui hubungan berisiko, dan ada juga dari ibu ke anak meski jumlahnya kecil. Ini fakta medis, bukan bahan stigma,” ucapnya.

Sementara itu, Pengelola Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Kukar, Masliana, memastikan layanan kesehatan di Kukar siap menangani HIV/AIDS.

Saat ini terdapat sembilan puskesmas, tiga rumah sakit umum daerah, dan dua klinik yang melayani pemeriksaan serta pengobatan HIV.

Ia menjelaskan, pemeriksaan HIV dilakukan secara bertahap untuk memastikan keakuratan hasil. Pasien yang terkonfirmasi positif akan menjalani terapi antiretroviral (ARV) secara rutin.

“ARV berfungsi menekan perkembangan virus dalam tubuh. Dengan pengobatan teratur, ODHA tetap bisa hidup sehat dan produktif,” jelas Masliana.

Ia berharap sinergi antara KPAD, Dinas Kesehatan, dan komunitas tidak hanya memperkuat pengendalian HIV/AIDS, tetapi juga mengubah cara pandang masyarakat.

“Selama stigma masih lebih kuat daripada kesadaran, maka upaya pencegahan akan selalu terhambat. Data sudah bicara, sekarang giliran masyarakat belajar memahami,” tutupnya.

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar