BorneoFlash.com, KUKAR - Tekanan terhadap kawasan hutan di Kutai Kartanegara (Kukar) semakin terasa setelah laporan Global Forest Watch menyebut hilangnya sekitar 690 ribu hektare tutupan pohon.
Situasi ini menempatkan Kukar dalam pusaran dilema antara kebutuhan ekonomi daerah dan kewajiban menjaga ekosistem hutan yang menjadi penopang kehidupan jangka panjang.
“Kami tahu ada dorongan ekonomi yang besar, tapi kerusakan hutan tidak bisa dijadikan alasan untuk membuka ruang bagi praktik yang merugikan masyarakat,” tegas Bupati Kukar Aulia Rahman Basri, pada Rabu (10/12/2025).
Selama bertahun-tahun, sebagian wilayah hutan di Kukar mengalami tekanan akibat ekspansi berbagai sektor, mulai dari pemanfaatan lahan hingga aktivitas industri. Di sisi lain, hilangnya tutupan hutan membuat daerah semakin rentan terhadap banjir, longsor, dan penurunan kualitas lingkungan.
Kondisi ini memaksa pemerintah mengambil posisi tegas untuk memastikan pembangunan ekonomi tidak mengorbankan keberlanjutan ekologis.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar