E-Paper BorneoFlash.com

Headline E-Paper BorneoFlash Edisi Senin 21 April 2025: Ribuan Warga AS Gelar Aksi Protes Nasional Tolak Kebijakan Trump, Tuntut Demokrasi dan Keadilan

lihat foto
Headline E-Paper BorneoFlash Edisi Senin 21 April 2025
Headline E-Paper BorneoFlash Edisi Senin 21 April 2025

BorneoFlash.com, WASHINGTON DC – Ribuan warga Amerika Serikat kembali turun ke jalan pada Sabtu (19/4/2025) dalam gelombang demonstrasi nasional yang menolak kepemimpinan Presiden Donald Trump dan kebijakan garis keras yang diterapkannya, terutama di bidang imigrasi, sains, dan supremasi hukum.

Aksi serentak ini terjadi di lebih dari 50 kota besar, termasuk New York City, Washington DC, San Francisco, dan Galveston, Texas.

Di New York, ribuan massa berkumpul di depan perpustakaan utama kota sambil mengangkat spanduk bertuliskan “Tidak Ada Raja di Amerika” dan “Tolak Tirani”, menyuarakan kecaman terhadap kebijakan Trump yang dinilai merusak nilai-nilai demokrasi.

Salah satu seruan paling kuat datang dari penolakan terhadap kebijakan deportasi terhadap imigran tidak berdokumen. Para demonstran meneriakkan, “Jangan ada ICE, jangan ada rasa takut, imigran diterima di sini”, merujuk pada aktivitas Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE) yang kian gencar di era Trump.

Seruan untuk Menjaga Supremasi Hukum

Di depan Gedung Putih, ratusan orang menyuarakan kekhawatiran terhadap lemahnya komitmen pemerintah terhadap supremasi hukum. Benjamin Douglas (41), salah satu peserta aksi, mengutuk penangkapan Mahmoud Khalil, mahasiswa pro-Palestina yang menurutnya merupakan bentuk kriminalisasi gerakan sipil.

"Pemerintahan ini sedang menyerang langsung ide supremasi hukum dan hak warga untuk hidup bebas dari kekerasan negara," ujarnya kepada AFP.

Kathy Valy (73), anak dari korban Holocaust yang ikut dalam aksi di New York, bahkan menyamakan situasi saat ini dengan masa awal kekuasaan Adolf Hitler. “Trump memang lebih bodoh daripada fasis lainnya, tapi bahayanya tetap nyata,” katanya tegas.


Akademisi dan Ilmuwan Juga Angkat Suara

Kritik tajam juga datang dari kalangan akademisi. Daniella Butler (26), mahasiswa doktoral imunologi dari Universitas Johns Hopkins, menyuarakan keprihatinannya atas pemotongan anggaran riset sains dan kesehatan. Ia membawa peta Texas yang menandai sebaran wabah campak, mengingatkan publik akan bahaya dari penolakan terhadap ilmu pengetahuan.

"Ketika sains diabaikan, orang-orang akan mati," tegasnya, menyindir Kepala Kesehatan Trump, Robert F. Kennedy Jr., yang dikenal sebagai skeptis vaksin.

Aksi Simbolik di Seluruh Negeri

Di San Francisco, ratusan orang membentuk tulisan raksasa “IMPEACH + REMOVE” di tepi pantai sebagai simbol perlawanan terhadap kepemimpinan Trump.

Sementara itu, di Galveston, Texas, meski aksi hanya diikuti puluhan orang, semangat peserta tetap membara. “Biasanya saya akan menunggu pemilu, tapi sekarang kita tidak bisa diam saja,” ujar Patsy Oliver (63), seorang penulis.

Beberapa pengunjuk rasa membentangkan bendera AS terbalik sebagai simbol bahaya dan keputusasaan, menegaskan keresahan yang semakin meluas di masyarakat.

Gerakan Terkoordinasi Secara Nasional

Aksi-aksi ini diorganisasi oleh kelompok bernama 50501, sebuah jaringan nasional yang mengoordinasikan 50 protes lokal dan satu gerakan nasional.

Dalam pernyataan resminya, kelompok ini menyebut aksinya sebagai “respons cepat yang terdesentralisasi terhadap tindakan anti-demokrasi dan ilegal dari pemerintahan Trump dan sekutu plutokratisnya.”

Mereka juga menegaskan komitmen bahwa semua aksi dilakukan secara damai dan konstitusional. (*)

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar