BorneoFlash.com, BALIKPAPAN - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah merilis bahwa terjadi peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), terutama di kota-kota besar.
Di Kota Balikpapan juga terjadi hal yang sama, bahwa tahun ini ada peningkatan kasus DBD dan ini disikapi dengan mencoba memberi intervensi melalui inovasi baru Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). "Jadi ada dua kota di Kaltim yang dicoba memberi intervensi yang baru untuk DBD, yakni Bontang dan Balikpapan," jelas Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan, dr Andi Sri Juliarti kepada media, Rabu (4/10/2023).
Di Bontang sudah dimulai namanya intervensi dengan wall bacia, untuk membuat nyamuknya itu seperti mandul. Kalau di Balikpapan, intervensi yang dicoba adalah memberikan vaksin berdarah dengue.
"Ini jenis vaksin yang baru. Ini pertama kali jenis vaksin DBD. Kita diberikan sebanyak 10 ribu dosis vaksin. Nanti akan disuntikkan dua kali pada anak, dengan jarak tiga bulan dari suntik pertama. Kita mengambil sasaran anak usia 6 sampai 15 tahun, karena memang data Balikpapan usia tersebut yang banyak terkena dengue, jumlah ini belum mencukupi untuk seluruh anak usia 6 sampai 14 tahun di Kota Balikpapan," ungkapnya.
Sehingga Dinas Kesehatan mencoba lagi menilai dimana wilayah terbanyak kasus DBD. Untuk saat ini di Balikpapan berada di wilayah Kecamatan Balikpapan Utara dan Balikpapan Tengah.
"Kita akan mulai pertama pada sekolah-sekolah di wilayah tersebut, hari ini kami akan sosialisasikan kepada seluruh Kepala Sekolah yang ada di utara dan di tengah, tentang bagaimana vaksin DBD ini supaya diteruskan dulu kepada orang tua sebelum kita akan memulainya kira-kira pada bulan November nanti," jelasnya.
Meskipun, ini memang bukan imunisasi yang wajib, tetapi ini akan dicoba di Balikpapan. Mengingat Balikpapan memang berpotensi kasus DBD selalu naik setiap tahun.
"Jadi menyasarnya ke Sekolah dan penyuntikannya lewat tenaga Puskesmas, tetapi tidak dibuka layanan itu di Puskesmas," ujar Dio sapaan karibnya.
Pihaknya yang berkunjung untuk memvaksinasi ke sekolah-sekolah, artinya jemput bola dan tentu saja ini harus disosialisasikan terlebih dahulu karena jenis vaksin baru dan perlu mendapat persetujuan dari ke pihak sekolah dan orang tua.
Vaksin yang diperkirakan menghabiskan anggaran Rp 10 miliar untuk 10 ribu dosis vaksin, diberikan dari APBD Provinsi Kaltim,
"Selanjutnya apakah nanti provinsi akan membantu lagi atau dari APBD kota, karena biasanya memang bantuan dari pusat maupun dari provinsi itu bersifat stimulan. Diharapkan daerah yang meneruskan," terangnya.
Diketahui, saat ini cuaca lagi ekstrim ini. Banyak daerah yang kekurangan air, sehingga menampung air. "Ini menjadi media perkembangbiakan DBD," pungkasnya.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar