Berita Kota Balikpapan

Maraknya Pemberitaan Kasus Asusila di Balikpapan, Peranan Keluarga Yang Terpenting Dalam Pengawasan 

lihat foto
Patria Rahmawaty S.Psi.,M.MPd yang berprofesi sebagai seorang Psikolog kota Balikpapan. Foto : BorneoFlash.com/Muhammad Eko.
Patria Rahmawaty S.Psi.,M.MPd yang berprofesi sebagai seorang Psikolog kota Balikpapan. Foto : BorneoFlash.com/Muhammad Eko.

BorneoFlash.com, BALIKPAPAN - Patria Rahmawaty S.Psi.,M.MPd yang berprofesi sebagai seorang Psikolog, juga angkat bicara mengenai maraknya pemberitaan kasus pencabulan (Asusila) yang korbannya anak dibawah umur yang terjadi di kota Balikpapan.

Dia katakan, di Balikpapan patologi sosial di Balikpapan itu semakin banyak. Menurutnya, kejadian itu sebenarnya sudah nampak sejak dahulu kala namun jarang terpublikasi.

Hal tersebut dikarenakan dulu itu masyarakat lebih banyak bersikap pasif, apatis sehingga enggan melapor kepada pihak yang berwajib.

Meski demikian berbeda saat ini. Selain kasus tersebut semakin nampak, masyarakat juga sudah mulai paham sehingga masyarakat berani melapor kepada pihak yang berwajib.

"Artinya pada saat dia melaporkan itu dia sudah tau resikonya bahwa aib itu akan diketahui masyarakat," ujarnya baru-baru ini.

Dia juga terangkan, setelah melapor dan masuk ke dalam pemberitaan terkait hal yang menimpanya, tentunya sangat berpengaruh kepada psikologis korban.

Terlebih lagi jika di blow up lengkap oleh media, seperti ada nama sekolahnya, inisialnya diganti nama samaran. Orang kan sekarang cerdas, orang langsung pada stalking untuk mencari tahu.

" untuk itu, korban tidak usah terlalu diperjelas, tapi yang lebih diperjelas itu kepada pelaku," paparnya.

Tak hanya itu, untuk korban juga disarankan agar dilakukan di treatment, jika tidak akan berdampak kepada sisi kejiwaan para korban.

Pasalnya, jika korban setelah dewasa dan melihat pemberitaan tentang masa lalunya, itu pasti masih berdampak, namun jika di treatment secara efektif itu dampaknya tidak terlalu dalam.


Lanjutnya, maraknya aksi pencabulan beberapa waktu terakhir ini juga tak terlepas dari pengaruh dari luar terutama yang mengarah ke Hedonisme.

Jadi ketika itu sudah melewati batas etika yang ada di masyarakat, akhirnya jadi sebuah gaya hidup dan banyak ditiru.

Pengaruh tersebut juga tak terlepas dari peran teknologi, dimana untuk teknologi berperan melalui konten-konten yang bisa dilihat oleh masyarakat, sementara konten-konten itu tidak ada kontrol untuk batasan usianya.

Akibatnya anak-anak dibawah umur pun bisa mengkonsumsi konten-konten yang mengarah ke pornografi maupun pornoaksi sehingga bisa jadi akan menambah rasa ingin tahu mereka tentang pergaulan di atas usianya.

"Seharusnya mereka tidak harus mencari dari konten luar, itu bisa didiskusikan dari pihak keluarga, peranan keluarga sendiri juga bisa memberikan pendidikan tentang seksual untuk mencegah agar tak terjerumus kedalam pergaulan bebas,"bebernya.

Selain itu, kata dia, anak yang masih dibawah umur itu seharusnya masih dibawah pengaruh orang tua. Hal itu dikarenakan pada fase itu kematangan emosionalnya masih labil.

"Mereka masih ingin mencari tau karakter dirinya secara psikologis, mereka mulai ingin mencoba sesuatu yang baru, sehingga orang dewasa mengambil moment itu," pungkasnya.

(BorneoFlash.com/Eko)
Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar