Berita Nasional Terkini

Impor Komoditas AS Senilai Rp4,5 Miliar Dolar Dinilai Berisiko Tekan Industri Dalam Negeri

zoom-inlihat foto
Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendatangani perjanjian perdagangan timbal balik di Washington DC, Amerika Serikat, pada Kamis (19/2/2026). Foto: BorneoFlash/ANTARA/HO-Sekretariat Kabinet
Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendatangani perjanjian perdagangan timbal balik di Washington DC, Amerika Serikat, pada Kamis (19/2/2026). Foto: BorneoFlash/ANTARA/HO-Sekretariat Kabinet

BorneoFlash.com, JAKARTA — Komitmen pembelian sejumlah komoditas pertanian dari Amerika Serikat dinilai berpotensi menekan perekonomian domestik. Pasalnya, harga sejumlah produk asal Negeri Paman Sam tersebut relatif lebih mahal dibandingkan sumber impor lain yang menawarkan harga lebih kompetitif.

Peneliti CORE Indonesia, Eliza Mardian, mengatakan kesepakatan dagang ndonesia dan AS berpotensi membuat Indonesia membeli komoditas dengan harga yang tidak lagi sepenuhnya mempertimbangkan aspek daya saing pasar.

“Beberapa komoditas pangan dari AS relatif lebih mahal dibandingkan yang biasa kita beli,” ujar Eliza saat dihubungi di Jakarta, pada Rabu (25/2/2026).

“Karena adanya kesepakatan itu, kita jadi terpaksa membeli dengan harga relatif lebih tinggi, bukan lagi mempertimbangkan harga yang paling kompetitif,” tambahnya.

Dalam kesepakatan dagang Indonesia dan Amerika Serikat yang diteken pada 19 Februari 2026, Indonesia berkomitmen membeli produk pertanian AS senilai lebih dari 4,5 miliar dolar AS. Komoditas tersebut meliputi kedelai, jagung, gandum, kapas, hingga daging sapi.

Mengutip laporan Antara, Indonesia akan mengimpor sedikitnya 3,5 juta metrik ton kedelai dari AS per tahun selama lima tahun. Selain itu, terdapat komitmen pembelian 3,8 juta metrik ton bungkil kedelai per tahun, gandum minimal 2 juta metrik ton per tahun, serta kapas sebanyak 163.000 metrik ton per tahun dalam periode yang sama.


Eliza menilai, harga komoditas dari AS cenderung lebih tinggi dibandingkan negara pemasok lain. Sebagai contoh, jagung dari Argentina dibanderol sekitar 193 dolar AS per metrik ton (MT), sedangkan dari AS mencapai 194 dolar AS/MT.

Gandum dari Rusia tercatat 228 dolar AS/MT, sementara dari AS 233 dolar AS/MT. Adapun kedelai dari Argentina berada di kisaran 405 dolar AS/MT, sedangkan dari AS mencapai 418 dolar AS/MT.

Menghadapi kondisi tersebut, ia mendorong pemerintah menyusun strategi mitigasi agar industri domestik tetap terlindungi. Salah satu opsi yang dapat ditempuh adalah pemberian subsidi bagi pelaku industri yang menggunakan bahan baku dalam negeri.

“Misalnya subsidi jagung untuk pakan ternak bagi peternak kecil. Ini bisa memberi manfaat ganda bagi petani jagung dan peternak,” jelasnya.

Eliza juga menekankan pentingnya proteksi terhadap petani dan peternak dalam negeri. Jika petani enggan menanam karena kalah bersaing dengan produk impor, produksi nasional berisiko menurun sementara kebutuhan terus meningkat.

“Kondisi ini bisa meningkatkan ketergantungan impor dan membuat Indonesia semakin rentan terhadap gejolak geopolitik global,” pungkasnya. (*/BorneoFlash.com/ANTARA)

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar