BorneoFlash.com, BALIKPAPAN - Momentum Bulan K3 Nasional (BK3N) dimanfaatkan PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB) untuk memperluas kampanye kesehatan di kalangan generasi muda.
Berkolaborasi dengan Universitas Balikpapan, KPB menggelar Sosialisasi HIV dan Tuberkulosis (TB) bertema Zero Stigma, Zero Penularan di Auditorium Putri Aji Karang Melenu, 14 Februari 2026.
Kegiatan ini diikuti mahasiswa, pelajar, serta sivitas akademika sebagai bagian dari penguatan literasi kesehatan bagi kelompok usia produktif, segmen yang menjadi tulang punggung pembangunan kota industri seperti Balikpapan.
Data Kementerian Kesehatan RI mencatat Indonesia masih menghadapi beban kasus TB tertinggi di dunia, dengan estimasi lebih dari satu juta kasus pada 2025. Sementara itu, HIV juga tetap menjadi persoalan serius akibat rendahnya deteksi dini dan masih kuatnya stigma sosial.
Di kota industri, isu ini tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga produktivitas tenaga kerja, ketahanan sosial, dan kualitas sumber daya manusia.
Vice President (VP) Legal & Relation PT KPB, Asep Sulaeman, menegaskan edukasi kesehatan merupakan bagian dari komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan pembangunan daerah.
“Kota Balikpapan ditopang usia produktif sebagai penggerak industri dan pembangunan. Jika generasi mudanya tidak terlindungi dari risiko penyakit menular atau masih terjebak stigma, yang terancam bukan hanya kesehatan individu, tetapi juga masa depan produktivitas kota ini,” ujarnya, melalui siaran pers pada Senin (23/22026).
Menurut Asep, pendekatan edukatif menjadi kunci untuk membangun pemahaman sekaligus empati.
“Kami ingin generasi muda memahami cara penularan, pencegahan, dan pentingnya deteksi dini HIV dan TB. Namun lebih dari itu, kami ingin menumbuhkan keberanian untuk tidak memberi stigma. Zero stigma adalah langkah awal menuju zero penularan,” tegasnya.
Materi sosialisasi disampaikan oleh dr. Dewa Donny Lesmana dari Dinas Kesehatan Kota Balikpapan. Ia menekankan bahwa keterbukaan informasi dan pemeriksaan dini sangat penting dalam memutus rantai penularan.
Menurutnya, sinergi antara industri, institusi pendidikan, dan pemerintah menjadi fondasi penting dalam memperluas literasi kesehatan, terutama di kalangan anak muda.
“Kami terus mendorong kolaborasi dengan institusi pendidikan dan pemangku kepentingan agar upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit menular dapat berjalan berkelanjutan dan berdampak nyata,” ungkapnya.
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi interaktif. Salah satu peserta, Endin Heratiansyah dari SMA Negeri 8 Balikpapan, mengaku mendapatkan pemahaman baru terkait HIV/AIDS serta pentingnya pencegahan sejak dini.
“Kami mendapat edukasi langsung dari tenaga kesehatan. Harapannya, kegiatan seperti ini bisa lebih sering diadakan agar semakin banyak masyarakat memahami bahaya HIV dan pentingnya pencegahan,” katanya.
Melalui kegiatan ini, KPB menegaskan bahwa investasi pada kesehatan generasi produktif merupakan bagian dari tanggung jawab bersama dalam menjaga keberlanjutan pembangunan kota.
Edukasi, deteksi dini, serta penghapusan stigma dinilai menjadi fondasi penting agar Balikpapan tetap tumbuh sebagai kota industri yang sehat, inklusif, dan berdaya saing. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar