BorneoFlash.com, KUKAR - Penurunan angka kemiskinan di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) ke level 6,8 persen menjadi penanda penting dalam arah pembangunan daerah.
Setelah puluhan tahun bertahan di kisaran 7 persen, capaian ini menunjukkan adanya pergeseran kebijakan yang mulai memberikan dampak nyata.
Berdasarkan data terbaru, persentase penduduk miskin di Kukar turun dari 7,3 persen menjadi 6,8 persen.
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, menyebut capaian tersebut sebagai hasil dari proses kerja panjang pemerintah daerah yang melibatkan seluruh jajaran.
“Angka-angka statistik ini memperlihatkan kinerja kita dan dampak dari proses-proses kerja yang telah dilakukan,” ujar Aulia.
Meski demikian, penurunan kemiskinan dinilai belum menutup seluruh tantangan pembangunan.
Aulia menegaskan bahwa keberhasilan menembus angka 6 persen justru membawa Kukar pada fase pembangunan berikutnya, yakni peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Salah satu pekerjaan rumah yang disorot adalah penanganan stunting. Tantangan ini dinilai semakin kompleks di tengah penurunan transfer keuangan daerah yang berpotensi mempersempit ruang fiskal.
Namun menurut Aulia, keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi alasan untuk mengendurkan komitmen terhadap pelayanan dasar masyarakat.
“Tidak ada alasan ketika dilakukan evaluasi di tahun 2026, angka stunting justru naik atau bertahan,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa penanganan stunting merupakan bagian dari strategi pembangunan jangka panjang, sehingga harus dirumuskan secara tepat sasaran dan dilaksanakan secara kolaboratif lintas sektor.
“Pekerjaan stunting ini adalah pekerjaan kita semua. Karena itu, kolaborasi seluruh pihak sangat penting untuk mencapai target di tahun-tahun mendatang,” tutup Aulia.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar