Pemkot Samarinda

Pascabanjir, Dinkes Samarinda Catat 272 Kasus Penyakit 

lihat foto
Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismed Kosasih. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa
Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismed Kosasih. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa

BorneoFlash.com, SAMARINDA - Setelah banjir yang melanda Kota Samarinda selama sepekan mulai surut, dampak kesehatan masih dirasakan oleh warga, terutama kelompok rentan seperti anak-anak.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mencatat sebanyak 272 warga mengalami berbagai penyakit yang berkaitan dengan kondisi pascabanjir.

Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda melalui Dinkes terus melakukan pemantauan dan penanganan guna menekan potensi penyebaran penyakit di wilayah terdampak.

Kepala Dinkes Kota Samarinda, Ismed Kosasih, menyampaikan bahwa pihaknya telah berupaya semaksimal mungkin dalam memberikan layanan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak.

"Dinkes telah mengambil langkah cepat dengan mendirikan posko kesehatan di lokasi strategis yang berdekatan dengan Puskesmas Bengkuring dan Griya Mukti. Tenaga medis yang bertugas telah bekerja secara optimal dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada warga yang membutuhkan," jelasnya pada Jumat (7/2/2025).

Berdasarkan data yang dihimpun, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi penyakit dengan jumlah kasus tertinggi, yakni mencapai 120 kasus.

Selain itu, terdapat 48 warga yang mengalami hipertensi, 44 warga menderita dermatitis, 26 warga mengalami gangguan pencernaan, serta 9 warga yang tercatat mengalami diare.

Adapun 25 warga lainnya mengidap berbagai penyakit lain yang juga berkaitan dengan dampak banjir.

Ismed menjelaskan bahwa genangan air yang bertahan selama sepekan menjadi faktor utama meningkatnya kasus penyakit pascabanjir.

"Kami terus mendata keluhan kesehatan warga, baik melalui layanan Doctor On Call maupun kunjungan langsung ke posko kesehatan terdekat," ungkapnya.


Selain mendirikan posko kesehatan, Dinkes Samarinda juga mengerahkan tim medis yang bertugas secara mobile guna memastikan layanan kesehatan dapat menjangkau seluruh warga terdampak.

Petugas dari Palang Merah Indonesia (PMI) serta tenaga medis dari Puskesmas Bengkuring dan Puskesmas Remaja turut dikerahkan untuk memberikan pemeriksaan kesehatan secara langsung di lokasi banjir.

"Ada tim yang bertugas di posko secara tetap, sementara tim lainnya bergerak secara mobile melalui program Doctor On Call. Baru-baru ini, kami juga melakukan evakuasi terhadap seorang pasien yang mengalami stroke agar dapat dipindahkan ke tempat yang lebih aman dan tidak terdampak banjir," terang Ismed.

Selain itu, Dinkes juga telah melakukan survei kesehatan serta menyiapkan persediaan obat-obatan untuk mengantisipasi kemungkinan lonjakan kasus penyakit pascabanjir, seperti diare, ISPA, dan gangguan pencernaan.

Bantuan kebutuhan khusus, seperti popok untuk lansia dan balita, juga telah disalurkan kepada warga yang membutuhkan.

Dinkes Samarinda terus melakukan pemantauan intensif untuk memastikan tidak ada kasus penyakit serius yang muncul akibat banjir.

“Kami berharap tidak terjadi kasus leptospirosis seperti yang pernah terjadi di Balikpapan. Namun, langkah-langkah pencegahan tetap kami lakukan agar risiko penyakit tersebut dapat diminimalisir,” ujarnya.

Ismed juga mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala penyakit yang berkaitan dengan kondisi pascabanjir.

"Dinkes akan terus melakukan pemantauan dan survei di wilayah terdampak. Kami berharap tidak ada peningkatan kasus penyakit yang signifikan pascabanjir ini," pungkasnya.

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar