BorneoFlash.com, JAKARTA - “Tujuan utama vaksinasi Covid-19 adalah untuk menciptakan kekebalan komunitas atau herd immunity. Sehingga jika makin banyak orang yang kebal terhadap virus maka pandemi berangsur-angsur bisa berakhir,” ujar Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito.
Pernyataan itu dikatakannya dalam konferensi pers virtual yang ditayangkan di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (10/12/2020).
Indonesia rencananya akan mulai vaksinasi pada pertengahan Januari ini, mengikuti sejumlah sejumlah negara lainnya yang sudah lebih dulu. Namun masih menunggu izin edar darurat atau emergency use authorization dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Menjelang vaksinasi dilakukan, masih saja ada beredar sejumlah hoaks di masyarakat terkait vaksin Covid-19.
1. Vaksin masih dalam tahap uji klinik
Terdapat informasi yang menyebutkan bahwa vaksin Covid-19 yang akan digunakan adalah vaksin untuk uji klinik / only for clinical trial. BPOM memastikan hal tersebut hoaks atau tidak benar.
Juru Bicara Vaksin Covid-19 PT Bio Farma, Bambang Herianto mengenai hoaks vaksin Covid-19 dalam konferensi pers 3 Januari 2021 mengatakan,
“Kami konfirmasikan bahwa vaksin Covid-19 yang saat ini sudah berada di Bio Farma, dan akan digunakan untuk program vaksinasi nantinya,
Vaksinasi mendatang menggunakan vaksin yang telah memperoleh izin penggunaan dari BPOM, kemasannya pun berbeda dengan vaksin yang digunakan untuk keperluan uji klinik,” tegasnya.
Adapun foto yang beredar di media sosial menggunakan kemasan pre-filled syringe, atau biasa disingkat PFS.
Dimana kemasan dan jarum suntik berada dalam satu kemasan. Itu adalah kemasan Corovac untuk uji klinik.
Sedangkan vaksin yang akan digunakan untuk program vaksinasi pemerintah dikemas dalam bentuk vial single dose.
Tidak akan ada tulisan “only for clinical trial” karena memang telah memperoleh izin penggunaan.
2. Vaksin mengandung vero cell
Beredar info di masyarakat bahwa vaksin yang akan diberikan nanti mengandung bahan dari kera, yaitu vero cell.
Vero cell atau sel vero merupakan jalur sel (continuous cell line) yang berasal dari ginjal monyet hijau afrika (African green monkey).
Bambang menjelaskan bahwa vaksin Covid-19 buatan Sinovac tidak mengandung vero cell.
Vero cell hanya digunakan sebagai media kultur, untuk media kembang dan tumbuh virus tersebut, untuk proses perbanyakan virus sebagai bahan baku vaksin.
Jika tidak mempergunakan media kultur, maka virus akan mati sehingga tidak dapat digunakan untuk pembuatan vaksin.
Setelah mendapatkan jumlah virus yang cukup, maka akan dipisahkan dari media pertumbuhan dan vero cell ini tidak akan ikut/terbawa dalam proses akhir pembuatan vaksin.
“Dengan demikian, pada produk akhir vaksin, sudah dapat dipastikan tidak akan lagi mengandung sel vero tersebut,” jelas Bambang.
Bambang menjelaskan produksi vaksin itu ibarat menanam padi yang membutuhkan media tanam berupa tanah, Saat dihubungi Kompas.com, Selasa (5/1/2021).
Pada vaksin Sinovac, media tumbuhnya bukan tanah tapi vero cell. "Tapi ketika padi itu dipanen apakah tanahnya ikut? Nggak. Apalagi dimakan. Jadi vero cell ini nggak ada," tuturnya. Selain itu dia menjelaskan pengambilan vero cell bukan terus menerus. Pengambilan vero cell hanya dilakukan sekali dan sudah lama sekali. Itu tidak digunakan terus menerus hingga kini. "Sekali aja ngambilnya, terus diperbanyak-diperbanyak seperti kultur," ujarnya. Dia mengatakan sehingga tidak benar jika disebutkan bahwa banyak kera dibunuh untuk membuat vaksin Covid-19. 3. Vaksin dapat mengubah genom Bambang Herianto menjelaskan ada yang menggunakan DNA, ada vaksin yang menggunakan RNA. Tentang Beredarnya informasi bahwa vaksin dapat mengubah genom manusia menjadi hal lain, menurut Bambang itu tidak benar. "Betul-betul hoaks," katanya saat dihubungi Kompas.com, Selasa (5/1/2021). Dia menjelaskan meski berasal dari RNA, genetiknya sudah terputus. Jadi tidak mungkin dengan tiba-tiba masuk ke gen manusia lalu mengubah manusia menjadi buaya, monyet, atau lainnya. Dia mengatakan para ahli sudah memperhitungkannya. "RNA diambil kemudian dijadikan vaksin. Nggak mungkinlah mengubah manusia menjadi monyet," tuturnya. 4. Vaksin mengandung virus yang dilemahkan Ada juga informasi bahwa vaksin Covid-19 mengandung virus yang dilemahkan. Itu merupakan metode paling umum dalam pembuatan vaksin. Namun hal itu tidak benar. Bambang mengatakan vaksin Covid-19 buatan Sinovac yang akan digunakan mengandung bahan antara lain virus yang sudah dimatikan (atau inactivated virus), tidak mengandung sama sekali virus hidup atau yang dilemahkan. 5. Vaksin mengandung bahan pengawet Hoaks lain yang beredar, terdapat bahan-bahan pengawet yang terkandung dalam vaksin. Bambang mengklarifikasi bahwa vaksin Covid-19 buatan Sinovac tidak mengandung bahan seperti boraks, formalin, merkuri, serta tidak mengandung pengawet. Vaksin yang akan digunakan di masyarakat telah melalui tahapan pengembangan dan serangkaian uji yang ketat, sehingga terjamin kualitas, keamanan dan efektivitasnya di bawah pengawasan BPOM serta memenuhi standar internasional. 6. Vaksin mengandung bayi yang diaborsi Bambang juga mengatakan tidak benar jika disebut bahwa vaksin Covid-19 mengandung bayi yang diaborsi. "Nggak ada di vaksin Sinovac, nggak ada sama sekali," tegas Bambang. Sumber : Kompas.com
Pada vaksin Sinovac, media tumbuhnya bukan tanah tapi vero cell. "Tapi ketika padi itu dipanen apakah tanahnya ikut? Nggak. Apalagi dimakan. Jadi vero cell ini nggak ada," tuturnya. Selain itu dia menjelaskan pengambilan vero cell bukan terus menerus. Pengambilan vero cell hanya dilakukan sekali dan sudah lama sekali. Itu tidak digunakan terus menerus hingga kini. "Sekali aja ngambilnya, terus diperbanyak-diperbanyak seperti kultur," ujarnya. Dia mengatakan sehingga tidak benar jika disebutkan bahwa banyak kera dibunuh untuk membuat vaksin Covid-19. 3. Vaksin dapat mengubah genom Bambang Herianto menjelaskan ada yang menggunakan DNA, ada vaksin yang menggunakan RNA. Tentang Beredarnya informasi bahwa vaksin dapat mengubah genom manusia menjadi hal lain, menurut Bambang itu tidak benar. "Betul-betul hoaks," katanya saat dihubungi Kompas.com, Selasa (5/1/2021). Dia menjelaskan meski berasal dari RNA, genetiknya sudah terputus. Jadi tidak mungkin dengan tiba-tiba masuk ke gen manusia lalu mengubah manusia menjadi buaya, monyet, atau lainnya. Dia mengatakan para ahli sudah memperhitungkannya. "RNA diambil kemudian dijadikan vaksin. Nggak mungkinlah mengubah manusia menjadi monyet," tuturnya. 4. Vaksin mengandung virus yang dilemahkan Ada juga informasi bahwa vaksin Covid-19 mengandung virus yang dilemahkan. Itu merupakan metode paling umum dalam pembuatan vaksin. Namun hal itu tidak benar. Bambang mengatakan vaksin Covid-19 buatan Sinovac yang akan digunakan mengandung bahan antara lain virus yang sudah dimatikan (atau inactivated virus), tidak mengandung sama sekali virus hidup atau yang dilemahkan. 5. Vaksin mengandung bahan pengawet Hoaks lain yang beredar, terdapat bahan-bahan pengawet yang terkandung dalam vaksin. Bambang mengklarifikasi bahwa vaksin Covid-19 buatan Sinovac tidak mengandung bahan seperti boraks, formalin, merkuri, serta tidak mengandung pengawet. Vaksin yang akan digunakan di masyarakat telah melalui tahapan pengembangan dan serangkaian uji yang ketat, sehingga terjamin kualitas, keamanan dan efektivitasnya di bawah pengawasan BPOM serta memenuhi standar internasional. 6. Vaksin mengandung bayi yang diaborsi Bambang juga mengatakan tidak benar jika disebut bahwa vaksin Covid-19 mengandung bayi yang diaborsi. "Nggak ada di vaksin Sinovac, nggak ada sama sekali," tegas Bambang. Sumber : Kompas.com
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar