Ragam Ramadan

Tradisi Bubur Peca Tetap Lestari di Masjid Tertua Samarinda saat Ramadan

Bubur peca menjadi sajian khas berbuka di Masjid Shirathal Mustaqiem, Samarinda Seberang. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa
Bubur peca menjadi sajian khas berbuka di Masjid Shirathal Mustaqiem, Samarinda Seberang. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa

BorneoFlash.com, SAMARINDA — Kehangatan Ramadan di tepian Sungai Mahakam tidak hanya tercermin dari aktivitas ibadah, tetapi juga dari kuatnya kebersamaan antarwarga.

Suasana tersebut tampak jelas di Masjid Shirathal Mustaqiem, yang terus menjaga tradisi berbuka puasa bersama melalui sajian bubur peca.

Masjid bersejarah yang telah berdiri lebih dari satu abad ini rutin menjadi tempat berkumpulnya masyarakat menjelang waktu berbuka.

Sejak sore hari, relawan mulai menyiapkan hidangan, sementara jamaah berdatangan untuk menanti momen berbuka yang sarat makna sosial.

Pengurus masjid, Ishak Ismail, mengungkapkan bahwa bubur peca telah lama menjadi bagian dari tradisi Ramadan masyarakat Samarinda Seberang dan tetap dilestarikan hingga kini.

“Tradisi berbuka puasa dengan bubur peca telah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat Samarinda Seberang,” ujarnya, pada Senin (23/2/2026).

Ia menambahkan, kegiatan berbuka puasa bersama dilaksanakan setiap hari sepanjang bulan Ramadan, mulai dari awal hingga akhir. Selain menyediakan hidangan, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarjamaah.


“Kegiatan berbuka puasa bersama dilaksanakan setiap hari selama bulan Ramadan dan menjadi sarana untuk mempererat hubungan sosial antarjamaah,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, seluruh kebutuhan konsumsi bergantung pada partisipasi masyarakat. Donasi dari jamaah maupun para dermawan dikelola secara terbuka dan diumumkan secara rutin kepada publik sebelum pelaksanaan salat tarawih.

Antusiasme masyarakat terhadap tradisi ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Tidak hanya warga sekitar, pengunjung dari luar daerah juga turut hadir untuk merasakan suasana berbuka di masjid tersebut. Dalam satu hari, jumlah jamaah yang dilayani dapat mencapai ratusan orang.

“Jumlah jamaah yang mengikuti berbuka puasa di masjid ini dalam satu hari dapat mencapai sekitar 500 orang,” tuturnya.

Lebih dari sekadar hidangan berbuka, bubur peca juga memiliki nilai budaya yang kuat. Pada tahun 2025, kuliner ini telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda, sehingga semakin menguatkan posisinya sebagai bagian dari identitas lokal yang terus dijaga.

Melalui tradisi ini, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat solidaritas sosial.

Pengurus pun membuka kesempatan bagi masyarakat, termasuk rombongan dari luar daerah, untuk turut merasakan kebersamaan tersebut dengan melakukan koordinasi terlebih dahulu. (*)

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

Jangan ketinggalan berita terbaru! Follow Instagram  dan subscribe channel YouTube BorneoFlash Sekarang

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar