Board of Peace dalam Perspektif Islam dan Kemanusiaan

oleh -
Editor: Ardiansyah
Board of Peace. Foto: IST/WEF/cdn.democracywithoutborders
Board of Peace. Foto: IST/WEF/cdn.democracywithoutborders

BorneoFlash.com, OPINI – Konflik Palestina bukan hanya persoalan politik dan wilayah, tetapi juga menyangkut nilai moral, agama, dan kemanusiaan. 

 

Gagasan Board of Peace Palestina dapat dipahami sebagai upaya membangun perdamaian yang adil dan berkelanjutan, bukan sekadar menghentikan kekerasan sementara. Dua sudut pandang penting untuk menganalisisnya adalah Islam dan humanisme.

 

Dalam Islam, perdamaian berasal dari kata salam, yang berarti keselamatan dan ketenteraman. Perdamaian adalah kondisi ideal, sedangkan konflik hanya dibenarkan dalam batas mempertahankan diri dan harus tetap berpegang pada etika.

 

Ulama seperti Al-Ghazali menegaskan bahwa tujuan akhir dari konflik sekalipun harus kembali pada perdamaian yang adil (sulh), bukan dominasi. Maka, dari sudut pandang Islam, Board of Peace Palestina harus menjamin:

* Hak hidup aman
* Penghormatan martabat manusia
* Dialog sebagai jalan utama penyelesaian

 

Humanisme menempatkan manusia dan martabatnya sebagai pusat nilai moral. Setiap orang, tanpa memandang identitas, memiliki hak dasar untuk hidup aman dan bermartabat. 

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

Jangan ketinggalan berita terbaru! Follow Instagram  dan subscribe channel YouTube BorneoFlash Sekarang

No More Posts Available.

No more pages to load.