Puncak Keemasan: Diversifikasi dan Institusionalisasi Ilmu
Masa Abbasiyah (750-1258 M) menandai puncak tradisi keilmuan, di mana ilmu terbagi menjadi nahwu, fiqh, kalam, filsafat, matematika, astronomi, kedokteran, dan tasawuf. Madjid merinci kontribusi monumental: Al-Khwarizmi menciptakan aljabar dan algoritma, Ibnu Sina menyusun Al-Qanun fi al-Tibb yang jadi kurikulum medis Eropa hingga abad 17, Al-Farabi menyintesiskan filsafat Plato-Aristoteles dengan Islam, serta Ibnu Al-Haitsam merintis metode ilmiah eksperimental dalam optik (Kitab al-Manazir).
Di astronomi, Al-Battani menyempurnakan model Ptolemaik, sementara Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin dan Tahafut al-Falasifah menyeimbangkan rasionalisme dengan sufisme.
Institusi seperti madrasah Nizamiyah (1065 M) di Baghdad dan universitas Al-Azhar (970 M) di Mesir mensistematisasi pengajaran.
Ibnu Rusyd (Averroes) membela filsafat dari tuduhan bid’ah, sementara di Andalusia, Cordoba di bawah Abdurrahman III memiliki 70 perpustakaan dengan jutaan naskah, menjadi jembatan ilmu ke Eropa Kristen. Madjid menyoroti patronase khalifah seperti Al-Ma’mun dan semangat ijtihad kolektif sebagai pilar keberhasilan, menghasilkan peradaban holistik yang mengintegrasikan tauhid dengan kemajuan material.
Analisis Kemunduran dan Revitalisasi
Kemunduran dimulai dengan kehancuran Baghdad oleh Mongol pada 1258 M, yang memutus rantai transmisi ilmu, diikuti fanatisme teologis mazhab Asy’ariyah yang menutup pintu ijtihad. Kolonialisme Eropa abad 18-20 memperburuk ketertinggalan IPTEK, membuat dunia Islam bergantung pada Barat.
Madjid mengkritik sikap defensif ini, sebaliknya mengusulkan tiga “kaki langit” peradaban: (1) revitalisasi masjid sebagai pusat riset modern; (2) integrasi doktrin Islam seperti amar ma’ruf nahi mungkar dengan rasionalitas kontemporer; (3) harapan dari janji Qur’ani tentang umat terbaik (QS Ali Imran: 110).
Merujuk pemikir reformis seperti Muhammad Abduh (Mesir) dan Muhammad Iqbal (India) sebagai model, yang mendorong sekularisasi positif tanpa meninggalkan esensi syariah.
Relevansi bagi Era Kontemporer dan Indonesia
Dalam konteks Indonesia, Madjid menghubungkan tesisnya dengan Islam Nusantara: inklusif, adaptif, dan berbasis Pancasila. Buku ini menginspirasi pendirian UIN dan perguruan tinggi Islam modern, serta ekonomi syariah digital. Di tengah tantangan global seperti AI dan krisis iklim, umat Islam dituntut membangun peradaban baru yang halal dan inovatif.
Kaki Langit Peradaban Islam bukan sekadar rekaman sejarah, melainkan manifesto untuk khalifah fil ard yang adil, maju, dan menjadi rahmat bagi semesta. (*)
Nama Penulis: Agus Priyono Marzuki S.Pd
Profesi: Guru
No WhatsApp: 085792185490
Email: agus16priyono.marzuki@gmail.com







